Showing posts with label siroh sahabiyah. Show all posts
Showing posts with label siroh sahabiyah. Show all posts

Friday, November 20, 2009

Ummu Haram Binti Malhan -Rodhiallaahu 'anha-

Beliau adalah saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Beliau adalah istri dari sahabat yang agung yang bernama Ubadah bin ash-Shamit. Kedua saudaranya adalah Sulaim dan Haram; keduanya ikut di dalam perang Badar dan Uhud dan kedua-duanya syahid pada perang Bi’ir Ma’unah. Adapun Haram adalah seorang pejuang yang tatkala ditikam dari belakang beliau mengatakan, “Aku telah berjaya demi Rabb Ka’bah”.

Beliau adalah Ummu Haram binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghannam bin Adi bin Nazar al-Anshariyah an-Najjariyyah al-Madaniyyah.

Ummu Haram termasuk wanita yang terhormat, beliau masuk Islam, berbai’at kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wa sallam dan ikut berhijrah. Beliau meriwayatkan hadits Anas bin Malik meriwayatkan dari beliau dan ada juga yang lain yang meriwayatkan dari beliau.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memuliakan beliau dan pernah mengunjungi beliau di rumahnya dan istirahat sejenak di rumahnya. Beliau dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam baik apabila dihubungkan dengan sepersusuan ataupun dikaitkan dengan nasab, sehingga menjadi halal menyendiri keduanya.

Anas bin Malik berkata; “Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam masuk ke rumah kami, yang mana tidak ada yang didalam melainkan saya, ibuku (Ummu Sulaim) dan bibiku Ummu Haram. Beliau bersabda : “Berdirilah kalian, aku akan shalat bersama kalian”. Maka beliau shalat bersama kami pada saat bukan waktu shalat wajib.

Ummu Haram berangan-angan untuk dapat menyertai peperangan bersama mujahidin yang menaiki kapal untuk menyebarkan dakwah dan membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Allah saja. Akhirnya Allah mengabulkan angan-angannya dan mewujudkan cita-citanya. Tatkala dinikahi oleh sahabat agung yang bernama Ubadah bin Shamit, mereka keluar untuk berjihad bersama dan Ummu Haram mendapatkan syahid disana dalam perang Qubrus (Syprus).

Anas berkata: “Adalah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila pergi ke Quba’ beliau mampir kerumah Ummu Haram binti Malhan, kemudian Ummu Haram menyediakan makanan bagi beliau. Adapun suami Ummu Haram adalah Ubadah bin Shamit. Pada suatu hari Rasululllah Shallallâhu 'alaihi wa sallam mampir kerumah beliau, Ummu Harampun menyediakan untuk beliau, makanan kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyandarkan kepalanya dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tertidur. Tidak beberapa lama kemudian beliau bangun lalu beliau tertawa. Ummu Haram bertanya, “Apa yang membuat anda tertawa ya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam?” Beliau bersabda: “Sekelompok manusia dari kelompok-Ku, mereka berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berlayar di lautan sebagaimana raja-raja diatas pasukannya atau laksana para raja yang memimpin pasukannya”.

Ummu Haram berkata: “Wahai Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam do`akanlah agar aku termasuk golongan mereka”.

Kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendo`akan Ummu Haram lalu meletakkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau terbangun dan tertawa.

Ummu Haram bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam apa yang membuat anda tertawa?”.

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sekelompok manusia dari umatku akan diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah Ta'ala laksana raja bagi pasukannya”.

Ummu Haram berkata : “Wahai Rasululllah! do`akanlah agar saya termasuk golongan mereka”.

Rasululllah Shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Engkau termasuk golongan para pemula”.

Anas bin Malik berkata: Ummu Haram keluar bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Tatkala telah melewati laut, beliau naik seekor hewan kemudian hewan tersebut melemparkan beliau hingga wafat. Peristiwa tersebut terjadi pada perang Qubrus (Syprus), sehingga beliau dikubur disana. Ketika itu pemimpin pasukan adalah Mu`awiyah bin Abi Sufyan pada masa khalifah Utsman bin Affan, semoga Allah merahmati mereka seluruhnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 27 Hijriyah.

Begitulah, Ummu Haram adalah termasuk salah satu dari keluarga mulia yang setia terhadap prinsip yang dia pegang, yang mana beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan ‘aqidah tauhid yang murni. Beliau tidak mengharapkan setelah itu melainkan ridha Allah `Azza wa Jalla.

(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN)

Ummu Fadhl -Rodhiallahu 'anha-

Beliau adalah Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, dikenal dengan kuniyahnya yakni Ummu Fadhl. Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam. Keempat wanita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl, Asma' dan Salma.

Adapun Maimunah adalah Ummul Mukminin Rodhiallahu 'anha saudara kandung dari Ummu Fadhl. Sedangkan Asma' dan Salma adalah kedua saudari dari jalan ayahnya sebab keduanya adalah putri dari 'Umais.

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha adalah istri dari Abbas, paman Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam, dan ibu dari enam orang yang mulia, pandai dan belum ada seorang wanita pun yang melahirkan laki-laki semisal mereka. Mereka adalah Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma'bad, Qatsam dan Abdurrahman.

Tentang Ummu Fadhl ini Abdullah bin Yazid berkata,
Tiada seorangpun yang melahirkan orang-orang yang terkemuka yang aku lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadh
Putra dari dua orang tua yang mulia
Pamannya Nabiyul Musthafa yang mulia
Penutup para Rasul dan sebaik-baik rasul

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha masuk Islam sebelum hijrah, beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (Ummul Mukminin Rodhiallahu 'anha) sebagaimana yang dituturkan oleh putra beliau Abdullah bin Abbas Rodhiallahu 'anhu, "Aku dan Ibuku adalah termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak. "

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan para wanita. Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam terkadang mengunjungi beliau dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha adalah seorang wanita yang pemberani dan beriman, yang memerangi Abu Lahab si musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah berkata, "Abu Rafi' budak Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam berkata, 'Aku pernah menjadi budak Abbas, ketika Islam datang maka Abbas masuk Islam disusul oleh Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya."

Abu Lahab tidak dapat menyertai perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak mengikuti suatu peperangan maka ia mewakilkan kepada orang lain.

Tatkala datang kabar tentang musibah yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab, maka sebaliknya kami merasakan adanya kekuatan dan 'izzah pada diri kami. Aku adalah seorang laki-laki yang lemah, aku bekerja membuat gelas yang aku pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah suatu ketika aku duduk sedangkan di dekatku ada Ummu Fadhl yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang sampai kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari kemudian duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, "Ini dia Abu Sufyan bin Harits telah datang dari Badar. Abu Lahab berkata, "Datanglah kemari sungguh aku menanti beritamu.

Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, "Wahai putra saudaraku beritakanlah bagaimana keadaan manusia (dalam perang Badar)?" Abu Sufyan berkata, "Demi Allah tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah sekalipun demikian tatkala aku menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah."

Abu Rafi' berkata, "Aku mengangkat batu yang berada di tanganku, kemudian berkata, 'Demi Allah itu adalah malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangannya dan memukul aku dengan pukulan yang keras, maka aku telah membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia dudukkan aku dan memukuliku sedangkan aku adalah laki-laki yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha mengambil sebuah tiang dari batu kemudian beliau pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha berkata, 'Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya.'

Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, Demi Allah ia tidak hidup setelah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala menimpakan kepadanya penyakit bisul yang menyebabkan kematiannya."

Begitulah perlakuan seorang wanita mukminah yang pemberani terhadap musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga menjadi gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya karena ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang telah mencatat Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha sebagai teladan bagi para wanita yang dibina oleh Islam.

Ibnu Sa'd menyebutkan di dalam ath-Thabaqat al-Kubra bahwa Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, "Wahai Rasulullah saya bermimpi seolah-olah sebagian dari anggota tubuhmu berada di rumahku." Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Mimpimu bagus, kelak Fatimah melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam)."

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha keluar dengan membawa kegembiraan karena berita tersebut, dan tidak berselang lama Fatimah Rodhiallahu 'anha melahirkan Hasan bin Ali Rodhiallahu 'anhu yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha.

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha berkata, "Suata ketika aku mendatangi Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam, dengan membawa bayi tersebut maka Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, "Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini karena dia telah mengencingiku."

Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha berkata, "Maka aku ambil bayi tersebut dan aku cubit sehingga dia menangis, aku berkata, "Engkau telah menyusahkan Rasulullah karena engkau telah mengencinginya." Tatkala melihat bayi tersebut menangis Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang menyusahkanku karena telah membuat anakku menangis." Kemudian Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam meminta air lalu beliau percikkan ke tempat yang terkena air kencing kemudian bersabda,
"Jika bayi laki-laki maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi wanita maka cucilah."

Di antara peristiwa yang mengesankan Lubabah binti al-Haris Rodhiallahu 'anha adalah tatkala banyak orang bertanya kepada beliau ketika hari Arafah apakah Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam shaum ataukah tidak? Maka dengan kebijakannya, beliau menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin dengan cara beliau memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam tatkala beliau berada di Arafah, kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam dengan dilihat oleh semua orang beliau menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya.

Di sisi yang lain Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha mempelajari Hadits asy-Syarif dari Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah sang putra beliau Abdulllah bin Abbas Rodhiallahu 'anhu, Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik, dan lainnya.
Kemudian wafatlah Ummu Fadhl Rodhiallahu 'anha pada masa khalifah Ustman bin Affan Rodhiallahu 'anhu setelah meninggalkan kepada kita contoh yang baik yang patut ditiru sebagai ibu yang shalihah yang melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas Rodhiallahu 'anhu; kyai umat ini dan Turjumanul Qur'an (yang ahli dalam hal tafsir al-Qur'an), Begitu pula telah memberikan contoh terbaik bagi kita dalam hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian yang mampu menjatuhkan musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala yang paling keras permusuhannya.

Fathimah binti Al-Yaman -Rodhiyallahu 'anha-

Friday, 18 July 2008 20:56

Fathimah binti Al-Yaman Rodhiallahu 'anha adalah salah seorang sahabiyat yang orang tuanya sahabat-sahabiyat, dan saudaranya sahabat dan sahabiyat.

Saudara laki-laki Fathimah binti Al-Yaman yang dimasukkan ke dalam para sahabat antara lain, Hudzaifah bin Yaman dan Shafwan bin Al-Yaman. Di Al-­Istiab, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa keduanya gugur sebagai syahid di Perang Uhud bersama ayahnya.
Hudzaifah bin Al-Yaman, termasuk sahabat terkenal dan pilihan. Ia pemegang rahasia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang tidak diketahui siapa pun selain dia. Ia menghadiri Perang Uhud dan perang-perang sesudahnya. Ia mempunyai peran menonjol di Perang Khandaq, karena pada malam perang tersebut, ia diutus Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mencari informasi tentang kaum musyrikin.

Para penulis biografi menyebutkan bahwa Fathimah binti Al-Yaman mempunyai dua saudara perempuan, yaitu Ummu Salamah binti Al-Yaman yang termasuk wanita beriman, Muslimah, dan ahli ibadah. Dan Khaulah binti Al-Yaman yang juga menjadi sahabiyat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Di lingkungan keluarga Al-Yaman, Fathimah binti Al-Yaman tumbuh. Ia merasakan kenikmatan hidup di bawah naungan Islam, sejak pertama kali ia mendengarnya dan berkembang di Madinah di kalangan kaum Anshar. Setelah itu, ia menjadi salah seorang wanita yang berbaiat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, menjadi sahabiyat beliau, dan salah seorang sahabiyat yang bernama Fathimah.

Fathimah adalah nama wanita. Seorang wanita dinamakan Fathimah atau Fitham. Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi Ali bin Abu Thalib pakaian diberi garis-garis dengan sutera dan bersabda, "Robeklah menjadi beberapa kerudung untuk Fathimah-Fathimah."

Al-Qutaibi berkata, "Di antara Fathimah-Fathimah tersebut ialah pemimpin para wanita yaitu Fathimah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan istri Ali bin Abu Thalib. Kedua, Fathimah binti Asad bin Hasyim, ibu Ali bin Abu Thalib. Ia masuk Islam dan merupakan wanita pertama dari Bani Hasyim yang melahirkan anak dari Bani Hasyim. Ketiga. Fathimah binti Hamzah bin Abdul Muththalib, pemimpin para syuhada'."

Al-Hasan dan Al-Husain dinamakan anak Fathimah-Fathimah, karena ibu keduanya ialah Fathimah Az-Zahra', nenek keduanya adalah Fathimah binti Asad, dan nenek Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari jalur ayah beliau ialah Fathimah binti Abdullah bin Amr bin Imran bin Makhzum.

Jumlah sahabiyat yang bernama Fathimah lebih dari dua puluh. Di antara mereka ialah Fathimah Az-Zahra' binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Fathimah binti Asad yang tidak lain adalah ibu Ali bin Abu Thalib, Fathimah binti Khaththab yang tidak lain adalah saudara perempuan Umar bin Khaththab, dan Fathimah binti Al-Yaman.

Fathimah binti Al-Yaman dan Periwayatan Hadits
Ketika menyebutkan tentang Fathimah binti Al-Yaman, Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, "Fathimah binti Al-Yaman Al-Absiyah adalah sahabiyat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang-orang yang meriwa­yatkan hadits darinya ialah keponakannya bernama Abu Ubaidah bin Hudzaifah bin Al-Yaman (Abu Ubaidah bin Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Absi Al-Kufi. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya, bibinya dari jalur ayah bernama Fathimah, Adi bin Hatim, dan Abu Musa Al-Asy'ari. Orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya ialah Muhammad bin Sirin, Yusuf bin Maimun, Khalid bin Abu Umaiyah Al-Kufi, dan lain-lain. Abu Hatim berkata, "Namanya tidak disebutkan." Ibnu Hibban memasukkan Abu Ubaidah bin Hudzaifah ke dalam Ats-Tsiqaal) berkata, "Fathimah binti Al-Yaman Al-Absiyah adalah sahabiyat Rasulullah

Rib'i (Rib'i ialah anak Hirasy bin Jahsy Al-Absi alias Abu Maryam Al-Kufi), ia datang ke Syam dan mendengar khutbah Umar bin Khaththab di Syam. Ia meriwayatkan hadits dari Umar bin Khaththab, Ali bin Abu Thalib, Ibnu Mas'ud, Abu Musa Al-Asy'ari, Imran bin Hushain, Hudzaifah bin Al-Yaman, Thariq Al-Muharibi, Abu Al-Yusr Ka'ab bin Umar As-Sulami, Abu Mas'ud, dan lain­-lain. Orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya ialah Abdul Malik bin Umair, Abu Malik Al-Asyjai, Asy-Sya'bi, Nu'aim bin Abu Hindun, Manshur bin Al-Mu'tamir, Hilal (mantan budak Rib'i), Hushain bin Abdurrahman, dan lain-lain.

Ibnu Al-Madini berkata, "Anak Hirasy berjumlah tiga orang, yaitu Rib'i, Rabi', dan Mas'ud. Tidak ada hadits yang diriwayatkan dari Mas'ud kecuali perkataannya setelah kematiannya. Al-­Ajli berkata, 'Rib'i ialah tabi'in, perawi terpercaya, orang pilihan, dan tidak pernah berdusta sekali pun.' Abu Nu'aim, 'Rib'i meninggal pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz.' Abu Ubaidah berkata, 'Ia meninggal pada tahun 100 H.' Ibnu Sa'ad berkata, 'Ia perawi tepercaya dan mempunyai hadits-hadits shahih.' Ia disebutkan Ibnu Hibban di Ats-Tsiqaal. Ibnu Hibban berkata, 'Ia termasuk ahli ibadah orang-orang Kufah. Ia bersumpah tidak akan tertawa, hingga ia mengetahui ia masuk surga atau neraka'." )

Ibnu Abdul Barr berkata, "Fathimah binti Al-Yaman meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mempunyai banyak hadits.

Di antara hadits riwayat Fathimah binti Al-Yaman ialah hadits tentang kunjungannya kepada istri-istri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat beliau sakit yang membawa beliau kepada kematian.

Buku-buku hadits menyebutkan hadits dengan sanad sampai kepada keponakan Fathimah binti Al-Yaman, Abu Ubaidah bin Hudzaifah bin Al­-Yaman, dari bibinya dari jalur ibu, Fathimah binti Al-Yaman, yang berkata, "Kami menjenguk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kaum wanita. Tiba-tiba tempat air digantung, sedang airnya menetes mengenai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena saking panasnya sakit demam yang beliau derita. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana kalau engkau berdoa kepada Allah, agar Dia menghilangkan penyakit darimu?' -di riwayat lain, kenapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan penyakit dari­mu?'- Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Sesung­guhnya manusia yang paling berat ujiannya ialah para nabi, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang sesudah me­reka'. "

Ibnu Sa'ad dan Ibnu Abdul Barr meriwayatkan hadits dari saudara perempuan Hudzaifah bin Al-Yaman, Fathimah binti Al-Yaman, yang berkata,
"Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah kepada kami. Beliau bersabda, 'Hai para wanita, bukankah kalian berhias dengan perak? Tidaklah salah seorang dari kalian berhias dengan emas dan dipamerkan, melainkan ia disiksa dengannya.' Para wanita setelah itu memakai kancing di lengan baju mereka untuk merahasiakan emas dan cincin mereka. "

Jika hadits di atas shahih, maka telah dibatalkan, atau bahwa tidak mengenakan perhiasan itu lebih baik dari mengenakannya.

Itulah Fathimah binti Al-Yaman salah seorang putri sahabat, salah seorang yang meriwayatkan hadits mulia, salah seorang putri syuhada', saudara perempuan syuhada', salah seorang yang mengisi kehidupannya dengan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, dan berbuat apa saja yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya untuk akhiratnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Fathimah binti Al-Yaman, menem­patkannya di surga tertinggi bersama orang-orang yang bersandar di atas sofa yang bagian dalamnya adalah sutra tebal, dan memetik buah dengan dekat. Balasan kebaikan ialah kebaikan.