Showing posts with label sirah nabawiyah. Show all posts
Showing posts with label sirah nabawiyah. Show all posts

Friday, November 20, 2009

Kehidupan Rasulullah Sebelum Diutus

Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam dilahirkan di Makkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkan Ka'bah. Maka Allah menghancurkan Abrahah (dan tentaranya). Hal tersebut disebutkan di dalam surat Al Fiil.

Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim.

Ibu beliau adalah Aminah bintu Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Setelah ibunya melahirkan, ia mengirim beliau kepada kakeknya. Ibunya memberikan kabar gembira kepada sang kakek dengan kelahiran cucunya. Maka kakeknya datang dengan menggendong-nya. Sang kakek memasuki Ka'bah bersama beliau. Kakeknya berdoa bagi beliau dan menamai beliau Muhammad.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Dan (aku) memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang bernama Ahmad (Muhammad)." (QS. Ash Shaff: 6).

Nasab beliau dari sisi ayah adalah: Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin ghalib bin Fihr bin Malik bin AnNadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma'ad bin Adnan. Adnan termasuk keturunan Ismail bin Ibrahim 'Alaihimussallam. Nasab ayah Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam bertemu dengan nasab ibu beliau pada Kilab bin Murrah.

Masa Penyusuan Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam
Di masa itu, orang-orang mulia suku Quraisy mempunyai sebuah kebiasaan untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada para ibu susuan yang berasal dari desa (pedalaman). Agar di tahun-tahun pertama kehidupannya sang anak hidup di udara pedalaman yang segar, sehingga badannya menjadi kuat karenanya.

Oleh karena itu Abdul Muthallib mencari ibu susuan bagi Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Ketika itu datanglah wanita-wanita dari bani Sa'ad di Makkah. Mereka mencari anak-anak untuk disusui. Di antara mereka adalah Halimah As Sa'diyyah. Semua wanita itu telah mengambil anak untuk disusui kecuali Halimah. Ia tidak menemukan selain Muhammad. Pada mulanya ia enggan mengambil beliau dikarenakan beliau adalah anak yatim tanpa ayah. Namun ia tidak suka kembali tanpa membawa anak susuan. Akhirnya Halimah mengambil beliau karena tidak ada bayi selain beliau untuk disusui.

Halimah mendapatkan banyak dari barakah Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam selama menyusui beliau. Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam menetap di Bani Sa'ad selama dua tahun, selama masa penyusuan. Kemudian Halimah membawanya ke Makkah. Ia membawanya kepada ibu beliau, Halimah meminta, agar beliau bisa tinggal bersamanya lebih lama lagi.

Kemudian Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam mencapai usia lima tahun. Di usia itu terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Jibril datang kepada Muhammad Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Ketika itu beliau tengah bermain-main bersama anak-anak lain. Jibril mengambil beliau kemudian melemparkannya ke tanah. Ia mengambil jantung beliau. Ia mengeluarkan segumpal darah dari jantung tersebut. Kemudian ia berkata: "Ini adalah bagian syaithan dari dirimu."

Lalu ia mencucinya dalam baskom emas dengan air zam-zam. Kemudian Jibril mengembalikan jantung itu seperti semula. Anas Radhiyallahu'anhu, perawi hadits ini mengatakan: "Sungguh aku telah melihat bekas sobekan di dada beliau." ­­

Maka kemudian Halimah mengetahui kejadian ini. Ia pun mengkhawatirkan keselamatan beliau. Sehingga ia mengembalikan beliau kepada sang ibu.

Meninggalnya Ibu Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam dan Pengasuhan Sang Kakek


Rasulullah Sholallahu 'Alaihi wa Salam dikembalikan oleh Halimah. Beliau pun tinggal bersama sang ibu. Ketika beliau mencapai usia enam tahun, Aminah membawanya ke Yatsrib. Mereka menunjungi paman-paman beliau. Mereka adalah saudara Aminah dari Bani An Najjar.

Aminah pergi bersama Ummu Aiman, pengasuh Nabi Sholallahu 'Alaihi wa Salam. Di perjalanan pulang dari Yatsrib, ibu beliau meninggal. Ia meninggal di suatu tempat yang disebut Al Abwa'. Al Abwa' berada di antara Makkah dan Madinah. Maka Ummu Aiman kembali ke Makkah bersama beliau. Kemudian beliau diasuh oleh sang kakek Abdul Muthallib.

Sumber: Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah—Syu'bah Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyyah al-Jami'ah al-Islamiyyah, Madinah

Pengasuhan Abu Thalib & Perjalanan ke Syam

Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam tinggal dalam pengasuhan kakek beliau Abdul Muthallib sampai usia delapan tahun. Kemudian kakek beliau wafat. Sebelum wafatnya ia memberi wasiat kepada paman beliau Abu Thalib agar mengasuh beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Karena sang kakek mengetahui rasa sayang Abu Thalib kepada Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam.

Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam membantu paman beliau di dalam pekerjaannya. Abu Thalib mempunyai pekerjaan berdagang. Beliau menemaninya dalam perjalanan ke negeri Syam. Ketika itu beliau berusia dua belas tahun. Mereka tiba di sebuah tempat yang bernama Bushra, antara Syam dan Hijaz. Keduanya bertemu dengan seorang rahib. Nama rahib itu Buhaira.


Buhaira dapat mengenali Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam sebagai nabi terakhir. Karena ia melihat cincin kenabian di antara kedua pundak beliau. Dan ia mengetahuinya dari keadaan beliau yang yatim. Buhaira menyuruh Abu Thalib untuk mengembalikan beliau ke Makkah, karena ia mengkhawatirkan keselamatan Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dari gangguan Yahudi.

Pernikahan Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam dengan Khadijah

Khadijah mengetahui kejujuran dan sifat amanah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Maka ia meminta beliau untuk berniaga baginya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salampun menyetujuinya. Beliau pergi ke negeri syam. Beliau kembali dari perjalanan ini dengan keuntungan yang besar. Maisaroh, budak Khadijah, menceritakan pada Khadijah apa yang dilihatnya. Ia bercerita betapa bagusnya akhlak Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Karena ketika itu Maisaroh bersama beliau dalam perjalanan ke Syam. Khadijah pun merasa kagum kepada beliau. Kemudian paman Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam Abu Thalib meminangkan Khadijah untuk beliau. Maka beliau menikah dengan Khadijah. Ketika itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam berusia dua puluh lima tahun. Dan pada saat yang sama Khadijah berusia dua puluh tujuh tahun. Ia adalah istri pertama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam. Ia melahirkan bagi beliau anak laki-laki yaitu Al Qasim. Ia juga melahirkan Abdullah yang digelari dengan Ath Thayyib dan Ath Thahir. Dan ia juga melahirkan anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Fathimah dan Ummu Kultsum.

Sumber: Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah—Syu'bah Ta'lim al-Lughah al-'Arabiyyah al-Jami'ah al-Islamiyyah, Madinah

Saturday, November 14, 2009

Sekilas Arab Pra-Islam

Jazirah Arab pada masa pra-Islam adalah wilayah yang diapit oleh dua imperium besar: Byzantium (Romawi) dan Persia. Kekuasaan Byzantium meliputi wilayah-wilayah di sebelah barat Jazirah, termasuk Syam dan Mesir. Adapun kekuasaan Persia meliputi wilayah-wilayah di sebelah timur Jazirah, termasuk Irak. Tidak ayal lagi, daerah kekuasaan kedua imperium ini berbatasan satu sama lain di sebelah utara Jazirah. Pada negeri-negeri batas inilah, masing-masing imperium membentuk buffer-state.

Dua kekuatan superpower senantiasa saling berusaha menjatuhkan. Hal ini pula yang terjadi pada Byzantium dan Persia. Terjadi konflik berkepanjangan diantara dua imperium ini. Sebagai akibatnya, negeri-negeri batas kedua imperium ini, yang terletak di sebelah utara Jazirah, tidak pernah sepi dari konflik.

Dampak dari konflik di utara Jazirah ini, para pedagang dari Timur yang ingin mengekspor barang dagangannya ke kawasan Laut Tengah di Barat tidak bisa melewati jalur tersebut. Sebagai alternatif, mereka mengambil jalur memutar: Teluk Persia – Yaman – Hijaz – Laut Tengah. Nah, di Hijaz inilah terletak kota Mekkah.

Dengan demikian, Mekkah ketika itu adalah salah satu titik transit perdagangan antar negara. Diluar konteks perdagangan antar negara, Mekkah juga merupakan pusat berkumpulnya manusia dari berbagai penjuru Jazirah pada setiap musim haji. Pada kesempatan yang sama, mereka menggelar Pasar Akbar yang dikenal sebagai Pasar ’Ukaz. Jadi, seandainya pun Mekkah tidak dilewati jalur perdagangan internasional, ia tetap ramai oleh para pedagang Jazirah sendiri.

Dengan nuansa dagang yang kental ini, pekerjaan utama penduduk Mekkah ya berdagang itu. Mereka bukan komunitas petani, karena memang tanah di Mekkah juga tidak terlalu subur. Meski begitu, mereka tidak pernah kekurangan bahan-bahan pangan karena mereka selalu mampu memenuhinya dari perdagangan yang mereka jalankan. Penduduk Mekkah adalah para pedagang yang cukup handal. Tidak hanya berdagang secara lokal, mereka juga biasa melakukan ekspedisi dagang ke Syria (Syam) di utara Jazirah dan ke Yaman di selatan Jazirah.

Berbeda dengan Yaman ataupun Syria yang lebih subur, kawasan Hijaz dan Najd yang terletak di tengah-tengah Jazirah pada umumnya adalah padang gurun yang tandus. Karena itu wilayah ini sama sekali tidak menarik bagi negeri kolonialis Byzantium dan Persia. Kendati kedua imperium ini senantiasa berusaha menambah koloni-koloninya, namun mereka tidak pernah berpikir untuk menguasai padang gurun Arab. Transportasi ke sana terlalu keras. Bertahan hidup disana juga tidak mudah. Dan lebih jauh dari itu, tidak ada kekayaan alam yang bisa mereka eksploitasi. Karena itu, padang gurun Arab ketika itu adalah wilayah yang belum pernah terjajah.

Pada umumnya, cara hidup orang Arab pra-Islam adalah nomaden. Mereka berpindah-pindah dari satu padang rumput (oase) ke padang rumput lainnya. Mereka inilah yang biasa disebut sebagai masyarakat badui. Namun demikian, ada juga diantara orang-orang Arab yang hidup menetap di kota-kota.

Orang-orang Arab hidup secara komunal, hidup dalam suku-suku yang umumnya terbentuk berdasarkan pertalian darah. Dengan hidup secara komunal, seseorang bisa bertahan hidup. Suku ketika itu adalah pelindung bagi eksistensi seseorang. Jika seseorang terbunuh oleh suku yang lain, suku orang tersebut akan melakukan tindakan menuntut balas. Inilah satu-satunya hukum yang berlaku bagi tindak kriminal pembunuhan. Tidak ada sistem hukum mapan dan canggih yang mengatur hal ini. Ini akhirnya menciptakan lingkaran setan pembunuhan, sehingga berakibat pada terjadinya konflik dan peperangan antar suku yang tidak pernah berhenti.

Meski demikian masih ada hal-hal positif yang ada pada suku-suku tersebut. Mereka pada umumnya sangat membangga-banggakan muru’ah (sifat-sifat ksatria). Para penyair ketika itu biasa memuji-muji suku atas sifat-sifat muru’ah yang mereka miliki.

Berbicara tentang wanita, secara singkat bisa dikatakan bahwa di Arab pada masa itu kaum wanita tidak mendapat kedudukan dan penghargaan yang layak.

Masyarakat Mekkah sendiri adalah masyarakat paganis, penyembah berhala. Mereka polytehis, menyembah banyak tuhan. Meski Allah bagi mereka adalah The Supreme God, Tuhan Tertinggi, namun mereka masih memiliki banyak dewa yang mereka posisikan sebagai perantara antara mereka dan Allah. Yang paling populer dari dewa-dewa tersebut adalah Latta, ’Uzza, Manat dan Hubal.

Secara ekonomi, masyarakat Mekkah adalah masyarakat yang kapitalis. Diantara mereka terdapat golongan borjuis, yakni orang-orang dan suku-suku yang kaya dan terpandang. Mereka pada umumnya individualis dalam hal kekayaan. Kepedulian mereka relatif rendah terhadap orang-orang dan suku-suku yang lemah dan papa. Ditengah-tengah masyarakat yang demikian inilah Muhammad dilahirkan.

Ikhtisar Sirah Nabi dan Khilafah Rasyidah

PRA-ISLAM

Jazirah Arab diantara dua imperium besar : Romawi dan Persia, akan tetapi tidak pernah terjajah karena faktor alam.

Ketika itu, Syam dan Mesir merupakan bagian dari Romawi sedangkan Iraq merupakan bagian dari Persia. Karena diantara kedua imperium tersebut selalu terjadi peperangan maka rute perdagangan dari India dan Teluk Persia menuju Laut Tengah via Iraq menjadi rusak. Para pedagang lalu mengambil jalur perdagangan dari Yaman, lewat Makkah, menuju ke Gaza, Damaskus, dan Laut Tengah. Makkah juga kondusif sebagai pusat perdagangan karena dianggap sebagai Tanah Haram yang harus steril dari pertumpahan darah.

Sebagian besar penduduk Makkah adalah penyembah banyak tuhan (musyrik), dan mereka memiliki adat istiadat yang jauh dari keluhuran nilai-nilai moral (penindasan masyarakat lemah, perjudian, pelacuran, pembunuhan, kecurangan, dan sebagainya), kecuali bahwa mereka masih menjunjung tinggi beberapa adat istiadat seperti menghormati tamu dan fanatisme kesukuan.

Muhammad dilahirkan dari keturunan Isma’il, pada Tahun Gajah (571 M) dimana Abrahah melakukan penyerangan terhadap Ka’bah. Ayah beliau wafat ketika beliau masih dalam kandungan.

Diasuh oleh Halimah As-Sa’diyah.

Ibunda beliau wafat ketika beliau berusia 6 tahun.

Bersama sang kakek (Abdul Muthallib) sampai usia 8 tahun.

Bersama sang paman (Abu Thalib).

Menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun.

Memiliki kebiasaan berkhalwat.

BA’DAL BI’TSAH (SESUDAH DIUTUS SEBAGAI RASUL)

Menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun.

Berdakwah secara sembunyi-sembunyi sampai tahun ke-3 kenabian.

Berdakwah secara terang-terangan kepada penduduk Makkah sampai tahun ke-10 kenabian :

  1. Beberapa sahabat Nabi hijrah ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian.
  2. Hamzah dan Umar masuk Islam pada tahun ke-6 kenabian.
  3. Boikot tiga tahun terhadap Bani Hasyim dan Banil Muthallib.
  4. Tahun Duka Cita (wafatnya Abu Thalib dan Khadijah) pada tahun ke-10 kenabian.
  5. Isra’ dan Mi’raj

Berdakwah secara terang-terangan kepada penduduk di luar Makkah sampai tahun ke-13 kenabian :

  1. Berdakwah ke Thaif
  2. Bai’ah Aqabah I (Bai’atun Nisa’)
  3. Bai’ah Aqabah II (Bai’atul Harb)

Hijrah ke Madinah

  1. Membangun masjid, mempersaudarakan antara muhajirin dan anshar, membangun negara atas dasar Piagam Madinah.
  2. Perang Badar Kubra (Ramadhan 2 H) – 313 orang vs 1300 orang.
  3. Perang Bani Qainuqa’ (Syawwal 2 H)
  4. Perang Uhud (Syawwal 3 H) – 1000 orang vs 3000 orang.
  5. Perang Bani Nadhir (Rabi’ul Awwal 4 H)
  6. Perang Ahzab (Khandaq) (Syawwal 5 H) – 3000 orang vs 4000 + 6000 orang
  7. Perang Bani Quraidhah (Dzul Qa’dah 5 H)
  8. Perang Hudaibiyyah (Dzul Qa’dah 6 H)
  9. Mengirim surat dakwah kepada para raja (Raja Najasyi di Habasyah, Muqauqis di Mesir, Kisra di Persia, Kaisar Romawi, Penguasa Bahrain, Penguasa Yamamah, Penguasa Damaskus, Penguasa Oman)
  10. Perang Khaibar (Muharram 7 H) – 1400 orang vs Yahudi dalam 8 benteng
  11. Perang Mu’tah (Jumadil Ula 8 H) – 3000 orang vs 200,000 orang.
  12. Fathu Makkah (Ramadhan 8 H) – 10,000 orang
  13. Perang Hunain (Hawazin) (Syawwal 8 H) – 10,000+2,000 orang
  14. Perang Tabuk (Rajab 9 H) – 30,000 orang
  15. Haji Wada’ (Dzul Hijjah 10 H)
  16. Wafatnya Rasulullah (Senin, 12 Rabi’ul Awwal 11 H)

Setidak-tidaknya, tercatat 30 ghazwah (belum termasuk sariyyah) sesudah hijrah. Ini berarti dalam setiap tahun rata-rata terdapat 3 ghazwah (empat bulan sekali).

KHILAFAH RASYIDAH (30 tahun, dari 11-41 H)

Kekhalifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq (11-12 H / 632-633 M)

  1. Membasmi nabi-nabi palsu
  2. Perang Riddah (memerangi orang-orang yang murtad)
  3. Merintis pembebasan Syam dan Iraq
  4. Mengumpulkan Al-Qur’an

Kekhalifahan Umar ibnul Khaththab Al-Faruq (13-23 H / 634-644 M)

  1. Melakukan pembebasan seluruh Jazirah Arab, Syam (Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina), Mesir, Libia, Iraq, Persia (Iran), Armenia, Azerbaijan dan Tabaristan.
  2. Melakukan pembaruan dalam administrasi negara, seperti pendirian Baitul Maal dan pembentukan angkatan bersenjata yang digaji.

Kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan (23-35 H / 644-656 M)

  1. Membebaskan Pulau Siprus, merintis pembebasan Afrika Utara di sebelah barat Mesir, melakukan perang laut yang pertama melawan Romawi.
  2. Membukukan Al-Qur’an.

Kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib (35-40 H / 656-661 M)

  1. Mempertahankan pembebasan dan fokus urusan dalam negeri

Kekhalifahan Al-Hasan ibn Ali (41 H / 662 M)

Friday, November 13, 2009

SIRAH NABAWIYAH

Ketika Rasulullah SAW Menjadi Mata-Mata

Menjelang peristiwa perang Badar, Rasulullah SAW dan pasukan melakukan perjalanan menuju Badar. Setelah melalui beberapa bukit, maka tibalah mereka di Badar. Dari sana beliau melakukan kegiatan mata-mata bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat Rasulullah yang dengan setia menemaninya ketika peristiwa hijrah. Tatkala mereka berputar-putar di sekitar pasukan musyrikin Quraisy, tiba-tiba mereka berpas-pasan dengan seorang Arab yang sudah tua.

Pada saat pertemuan yang tidak sengaja itu, Rasulullah SAW melakukan penyamaran agar tidak ketahuan sebagai bagian dari pasukan Muslimin dari Madinah.

Rasulullah bertanya kepada orang tua itu tentang pasukan Quraisy dan Muhammad. Beliau menanyakan kedua pasukan itu agar tidak ketahuan penyamarannya.




Muhammad saw. menunjukkan perilaku unik dan mengagumkan dalam segala sisi hidupnya yang beragam. Dalam setiap jenak hidup, Muhammad saw. menjadi teladan mulya dan figur yang mengesankan. Muhammad saw. bukan hanya sebagai politikus an sich. Bukan sekedar panglima perang belaka. Bukan reformis sosial masyarakat saja. Bukan juga sekedar tokoh yang sisi manusiawinya menakjubkan. Ternyata semua sisi itu menyatu dalam pribadi Muhammad saw. yang sempurna. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyamai ketinggian akhlaknya. Tidak ada yang bisa menyamai kemulyaan kepribadiannya.

Kita akan menyuguhkan kepada pembaca bahwa Muhammad saw. insan yang memiliki sisi empati dan peduli sangat tinggi. Sisi empati dan peduli ini meliputi siapa saja yang ada di sekitanya: orang dekatnya, sahabatnya, keluarganya, putra-putranya, bahkan terhadap para musuh. Tidak hanya sampai di situ, Muhammad saw. berlaku sangat manusiawi terhadap hewan sekali pun.

Pertama, Sisi Manusiawi Muhammad Terhadap Sahabat-Sahabatnya

Muhammad saw. sangat mencintai sahabat-sahabatnya. Muhammad saw. menunjukkan kasih sayang kepada mereka. Muhammad saw. memanggil mereka dengan panggilang yang sangat mereka sukai. Muhammad saw. sigap memberi pelayanan kepada mereka. Bahkan Muhammad saw. berusaha menjadikan sahabatnya bisa rehat.




Sirah Nabawiyah merupakan seri perjalanan hidup seorang manusia pilihan yang menjadi parameter hakiki dalam membangun potensi umat. Sehingga, mempelajarinya bukan sekadar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itu. Melainkan, mengkajinya untuk menarik pelajaran dan menemukan rumusan kesuksesan generasi masa lalu untuk diulang di kehidupan kiwari.

Melalui pemahaman sirah nabawiyah yang tepat, setiap muslim akan mendapatkan gambaran yang utuh dan paripurna tentang hakikat Islam dan terbangun semangatnya untuk merealisasikan nilai-nilai yang didapat dalam kehidupannya saat ini. Apalagi sasaran utama dari kajian sirah adalah mengembalikan semangat juang untuk merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki umat Islam. Secara umum kepentingan kita mengkaji sirah nabawiyah, adalah:

Memahami pribadi Rasulullah saw. sebagai utusan Allah (fahmu syakhshiyah ar-rasul)

Dengan mengkaji sirah kita dapat memahami celah kehidupan Rasulullah saw. sebagai individu maupun sebagai utusan Allah swt. Sehingga, kita tidak keliru mengenal pribadinya sebagaimana kaum orientalis memandang pribadi Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi manusia biasa.



Kehidupan generasi pertama kaum muslimin penuh dengan ujian, penderitaan, dan fitnah. Di Mekah mereka mendapat tekanan dan menanggung penganiayaan dari kaum Quraisy. Karena itulah, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah.

Meski sudah hijrah ke Madinah, ancaman kaum Quraisy tidak surut. Bahkan, meningkat. Maklum, perlindungan kaum Anshar terhadap kaum muslimin Muhajirin dari Mekah, dianggap kaum Quraisy sebagai ancaman yang membahayakan eksistensi dan martabat mereka. Karena itu, Rasulullah saw. dan para sahabat sadar betul bahwa kota Madinah bisa diserang setiap saat oleh kaum Quraisy.

Kesadaran itu membuat seluruh kota Madinah siaga satu. Mereka tidak pernah tidur kecuali dengan memeluk senjata. Kondisi ini digambarkan oleh Aisyah r.a., “Sesampai di Madinah, Rasulullah saw. tidak pernah tidur semalaman. Lalu beliau bersabda, ‘Seandainya ada salah seorang sahabatku yang melindungiku malam ini.’”


Penentangan kaum kuffar terhadap dakwah Islam dilakukan dengan segala cara. Dengan cara hal yang manis menggiurkan, berupa tawaran duniawi, cara ini tidak mempan. Dengan cara tawar menawar, yaitu tawaran kepada Muhammad saw. agar menyembah tuhan mereka sehari, dan mereka menyembah Tuhannya Muhammad sehari. Dengan cara teror, intimidasi bahkan upaya pembunuhan. Semua cara berujung kegagalan.

Demikianlah Allah menggagalkan teror, tipuan, dan tawar menawar di hadapan gelombang dakwah di jalan Allah swt. Mereka gagal memadamkan cahaya iman dan tauhid.