Ada satu pembahasan mengenai isim yang terlewatkan (tak kira sudah dibahas), yakni mengenai pembagian isim menurut ta’yinnya, yakni
- Isim nakiroh
- Isim ma’rifat
Isim nakiroh adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang umum, yang belum jelas maksud yang diinginkan.
Contoh :
مُسْلِمٌ = muslim
Isim di atas, menurut bahasa arab adalah kata yang umum, karena belum menjelaskan “muslim yang mana yang dimaksud”
Adapun isim ma’rifat adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang tertentu dan khusus.
Contoh :
المُسْلِمُ = muslim itu
Isim di atas, dengan penambahan alif dan lam, menjadikannya ma’rifat dan sudah jelas “muslim mana yang dimaksudkan”
Berikut jenis-jenis isim yang ma’rifat
1. Isim dhomir
Contoh :
هُوَ أَنْتَ أَنَا نَحْنُ
2. Nama (baik nama orang, kunyah atau gelar)
Contoh :
عُمَرُ
اَبُوْ سَعِيْدٍ
شَمْسُ الدِّيْنِ
3. Isim isyaroh
Contoh :
هَذَا هَذَانِ هَاؤُلَاءِ هَذِهِ هَاتَانِ هَاؤُلَاءِ
4. Isim maushul
Contoh :
اَلَّذِيْ اَلَّذَانِ اَلَّذِيْنَ اَلَّتِى اَلَّتَانِ اَللَّاتِى\اَللَّائِ
5. Penambahan alif dan lam
Contoh :
اَلْبَيْتُ اَلْمَسْجِدُ
6. Disandarkan pada isim ma’rifat
Contoh :
قَلَمُ مُحَمَّدٍ (karena Muhammad adalah ma’rifat, maka qolamun yg asalnya nakiroh menjadi ma’rifat)
Monday, November 23, 2009
Bahasa Arab 19 : Isim nakiroh dan ma'rifat
Bahasa Arab 18 : Rangkuman mengenai Isim
Isim adalah kata yang mempunyai makna namun tidak terikat dengan waktu
Jenis-jenis isim menurut gender :
Isim mudzakkar
Adalah isim yang menunjukkan laki-laki, baik hakiki atau majazi.
Contoh : أَبٌ = bapak
Isim muannats
Adalah isim yang menunjukkan perempuan, baik hakiki atau majazi,
Contoh : أُمٌ = ibu
Jenis-jenis isim menurut ta’yinnya (pembahasan menyusul)
Isim nakiroh
Adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang umum,
Contoh : مُسْلِمٌ = muslim
Isim ma’rifat
Adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang khusus,
Contoh : عُمَرُ = umar
Jenis-jenis isim yang mu'rob:
Isim mufrod
Adalah isim yang menunjukkan bilangan satu,
Contoh : رَجُلٌ = laki-laki
Isim mutsanna
Adalah isim yang menunjukkan bilangan dua,
Contoh : رَجُلاَنِ = dua laki-laki
Isim jama’ mudzakkar salim
Adalah isim yang menunjukkan laki-laki yang lebih dari dua,
Contoh : مُسْلِمُوْنَ = banyak muslim
Isim jama’ muannats salim
Adalah isim yang menunjukkan perempuan yang lebih dari dua,
Contoh: مُسْلِِمَاتٌ = banyak muslimah
Isim jama’ taksir
Adalah isim jama’ yang berubah dari bentuk mufrodnya,
Contoh : رِجَالٌ = banyak laki-laki
Isim maqsur
Adalah isim yang diakhiri oleh alif lazimah yang sebelumnya fathah,
Contoh : مُوْسَى = musa
Isim mankus
Adalah isim yang diakhiri oleh ya lazimah yang sebelumnya kasroh,
Contoh: الْهَادِي = orang yang memberi petunjuk
Isim la yanshorif
Adalah isim yang tidak dapat di tanwin,
Contoh : عُمَرُ = umar
Asma’ul khomsal
Adalah isim yang khusus yang hanya mempunyai 5 kata,
Contoh : أَبُوْكَ = bapakmu
Jenis-jenis isim menurut bina’nya
Isim dhomir
Adalah isim yang merupakan kata ganti,
Contoh : هُوَ = dia laki-laki
Isim isyarah
Adalah isim yang merupakan bentuk isyarat,
Contoh : هَذَا = ini
Isim syarat
Adalah isim yang menunjukkan syarat,
Contoh : مَتَى = kapanpun
Isim istifham
Adalah isim yang menunjukkan kata Tanya,
Contoh : مَنْ = siapakah
Isim maushul
Adalah isim yang merupakan kata sambung,
Contoh : اَلَّذِيْ = yang
Bahasa Arab 17 : Mabninya FI’il
Fi’il-fi’il yang mabni ada 3, yakni
- Fi’il Madhi
- Fi’il Amr
- Fi’il mudhori yang bersambung dengan nun (yang menunjukkan perempuan) dan nun taukid (menunjukkan penegasan)
Tanda-tanda mabninya fi’il dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Mabni dengan dhommah (مَبْنِيٌ عَلَى الضَّمَّةِ)
Contoh :
كَتَبُوا (katabuu)
2. Mabni dengan fathah (مَبْنِيٌ عَلَى الفَتْحَةِ)
Contoh:
كَتَبَا (katabaa)
كَتَبَتَا (katabataa)
3. Mabni dengan sukun (مَبْنِيٌ عَلَى السُّكُوْنِ)
Contoh :
كَتَبْتَ (katabta)
كَتَبْتُ (katabtu)
4. Mabni dengan dihapusnya nun (مَبْنِيٌ عَلَى حَذْفِ النُّوْنِ)
Contoh :
أُكْتُبَا (uktubaa)
أُكْتُبُوْا (uktubuu)
5. Mabni dengan dihapusnya huruf illat (مَبْنِيٌ عَلَى حَذْفِ الْعِلَّةِ)
Contoh :
ادْعُ (ud’u) asalnya ادْعُوْ (ud’uu) ada wau di akhirnya
إهد (ihdi) asalnya إهدى (ihdii) ada ya di akhirnya
Mabni dengan fathah, dhommah dan sukun dilihat dari huruf sebelum terakhirnya.
Karena huruf terakhir pada kata كَتَبُوا adalah dhommah, maka dia mabni dengan dhommah, begitu pula ketika huruf terakhir pada kata كَتَبَا adalah fathah, maka dia mabni dengan fathah, begitu seterusnya. Sehingga tanda mabninya fi’il dilihat dari kata dasarnya bukan dari dhomir (kata ganti) yang bersambung dengan fi’ilnya
Latihan
1. Isilah kolom berikut!
2. Tentukan fi'il yang marfu', manshub, majzum dan mabni pada ayat berikut
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)
Bahasa Arab 16 : Mu’robnya Fi’il
Sebagaimana isim, fi’il pun mempunyai tanda-tanda I’rob, sebagaimana pada gambar berikut.
Diantara fi’il-fi’il yang ada, fi’il yang mu’rob hanyalah fi’il mudhori yang tidak bersambung dengan nun yang menunjukkan perempuan dan nun taukid, adapun selain hal tersebut adalah mabni.
Contoh yang bersambung dengan nun yang menunjukkan perempuan
يَكْتُبْنَ (yaktubna)=mereka perempuan menulis
تَكْتُبْنَ (taktubna)=kalian perempuan menulis
Contoh yang bersambung dengan nun taukid (penegasan).
لَيَحْبَطَنَّ (layahbathonna)=sungguh akan hilang
Asal semua fi’il mu’rob adalah marfu, kecuali ada penambahan alat-alat yang menyebabkannya mansub atau majzum.
Alat-alat penashob fi’il mu’rob
اَنْ (an)=agar (tapi terkadang tidak diartikan)
Contoh:
أََنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal dia adalah yang menciptakanmu.
لَنْ (lan)=peniadaan
لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً
Kami tidak akan beriman kepadamu (musa) sampai kami melihat Allah dengan jelas (al-baqoroh 55)
اِذَنْ(idzan)=kalau begitu
Contoh :
إِِذَنْ تَنْجَحَ (idzan tanjaha)=kalo begitu kamu akan lulus
كَيْ (kay)=agar/supaya
Contoh :
كَيْ تَرْبَحَ (kay tarbaha)=supaya kamu untung
لاَمُ كَيْ (lamu kay)=agar
Contoh:
إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (al-bayyinah 5)
لاَمُ الْجُحُوْد(lam juhud)=lam untuk membantah, biasanya sebelumnya didahului kata nafi (peniadaan)
Contoh :
لَمْ يَكُنِ اللهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ
Allah tidak akan mengampuni mereka (an-nisa 137)
ِحَتَّى (hatta)=sampai
Contoh :
حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Sampai unta masuk ke dalam lubang jarum (al-a’rof 40)
Alat penjazm fiil yang menjazmkan satu fi’il
لَمْ (lam)=tidak
Contoh:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ
Tidak beranak dan tidak diperanakkan
لَمَّا (lamma)=belum
Contoh :
وَلَمَّا يَدْخُلِ الإِيْمَانُ فِي قُلُوْبِكُمْ
Karena iman belum masuk ke dalam hatimu (al-hujurat 14)
ألَمْ (alam)=tidakkah
Contoh :
َأَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu? (al-insyiroh 1)
ألَمَّا (alamma)=belumkah
Contoh :
أَلَمَّا يَحْضُرْ ؟
Belumkah dia hadir??
لاَمُ الأَمْر (lam amr)=perintah
Contoh :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِه
Hendaknya orang-orang yang menyelisihi perintah itu takut (an-nur 63)
لاَ النََّاهِيَةُ (laa nahiyyah)=larangan
وَلاَ تَجْعَلْ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ
Janganlah engkau menjadikan sesembahan yang lain bersama Allah.
Alat yang menjazmkan dua fi’il
إِِنْ (in)=jika
Contoh:
وَإِِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْا
jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk (an-nur 54)
مَنْ (man)=barang siapa
Contoh :
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Dan barang siapa yang melakukan amal kejelekan sebesar biji dzarroh, niscaya dia akan melihatnya (al-zalzalah 8)
مَا (maa)=apa saja
Contoh :
وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللهُ
Apapun perbuatanmu yang baik, Allah akan mengetahuinya
مَهْمَا (mahma)=bagaimanapun
Contoh :
مَهْمَا تَقْرَأْ يَزِدْكَ مَعْرِفَةً
Bagaimanapun kamu membaca akan bertambah kepadamu pengetahuan
مَتَى (mata)=kapan saja
Contoh :
مَتَى تَرْجِعْ أََرْجِعْ
Kapanpun engkau kembali akupun kembali
أَياَّنَ (ayyaana)=setiap kali
Contoh :
أََيَّانَ تَعُدْ تَجِدْنِي
Setiap kali engkau kembali, engkau akan menemukanku
أَيْنَ (aina)=dimana
Contoh :
أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu
حَيْثُمَا (haitsuma)=dimanapun
Contoh:
حَيْثُمَا يَجْرِ النِّيْلُ تَخْصَبِ الأََرْضُ
Dimanapun sungai mengalir, bumi akan subur
كَيْفَمَا (kaifama)=bagaimanapun
Contoh :
كَيْفَمَا تَجْلِسْ أََجْلِسْ
Bagaimanapun engkau duduk, aku akan duduk
أَيٌّ (ayyun)=mana saja
Contoh :
أَيَّ آيَةٍ تَقْرَأْ تُؤْجَرْ
Ayat mana saja yang engkau baca, engkau akan mendapat pahala
Ringkasnya untuk fi’il-fi’il yang mu’rob adalah sebagai berikut
Bahasa Arab 15 : Pembagian fi’il menurut bangunannya
Perhatikan gambar berikut :
Fi’il menurut bangunannya terdiri dari 2, yaitu :
- Fi’il shohih (اَلْفِعْلُ الصَّحِيْحُ)
Adalah fi’il yang susunan hurufnya terdiri dari huruf selain dari huruf illat (ا,و,ي)
- Fi’il mu’tal (الفِعْلُ المُعْتَلُّ)
Adalah kebalikan fi’il shohih
Adapun fi’il shohih terbagi lagi menjadi 3 bagian, yakni :
- Fi’il mahmuuz (مَهْمُوْزٌ)
Adalah fi’il shohih yang salah satu hurufnya adalah hamzah
Contoh:
سَأَلَ (sa ala)=bertanya
قَرَأَ (qoro a)= membaca
- Fi’il mudo’af (مُضَعَّفٌ)
Adalah fi’il shohih yang huruf kedua dan ketiganya adalah sejenis.
Contoh :
مَدَّ (madda)=memanjangkan
عَضَّ (‘adhdho)= menggigit
فَرَّ (faro)=berlari
- Fi’il saalim (سَالِمٌ)
Adalah fi’il shohih selain mahmuz dan mudho’af
Contoh :
سَمِعَ (sami’a)=mendengar
فَتَحَ (fataha)=membuka
Sedangkan fi’il mu’tal terbagi menjadi 5, yakni
- Mitsaal (مِثَالٌ)
Adalah fi’il yang kata kerja pertamanya dimulai dengan huruf illat (wau/ya).
Contoh :
وَعَدَ (wa’ada)=berjanji
وَثَبَ (watsaba)=melompat
يَسَرَ (yasaro)=memudahkan
- Ajwaf (أَجْوَفٌ)
Adalah fi’il yang huruf keduanya merupakan huruf illat (wau/ya).
Contoh :
خَافَ (khoofa) asalnya خَوَفَ (khowafa)=takut
سَارَ (saaro) asalnya سَيَرَ (sayaro)=berjalan
- Naaqish (نَاقِصٌ)
Adalah fi’il yang huruf terakhirnya terdiri dari huruf illat (wau/ya)
Contoh :
رَضِيَ (rodhiya)=rela
غَزَا (gozaa) asalnya غَوَزَ (gowaja)=perang
- Lafiif (لََفِيْفٌ)
Adalah fi’il yang huruf pertama dan terakhirnya adalah huruf illat (wau/ya).
Contoh :
وَقَى (waqo)=memelihara
وَجِيَ (wajiya)=gembira
- Multawi (مُلْتَوِي)
Adalah fi’il yang huruf kedua dan akhirnya adalah huruf illat (wau/ya)
Contoh:
شَوَى (syawa)=memanggang
قَوِيَ (qowiya)=kuat
Maksud dari penjelasan fi’il-fi’il yang ada baik fi’il menurut susunannya, bangunannya, dll adalah untuk mengetahui perubahan fi’il yang disebut dengan shorof.
Karena setiap kata dari fi’il tersebut mempunyai shorof (tashrif) yang berbeda-beda, terutama pada fi’il yang mu’tal, jika tidak diketahui asal katanya, sangat sulit untuk merubahnya (mentashrif)
Bahasa Arab 14 : pembagian fi'il menurut susunannya
Fi’il menurut susunannya terbagi menjadi 4, yakni :
- Fi’il tsulasi mujarrod
- Fi’il tsulatsi maziid
- Fi’il ruba’I mujarrod
- Fi’il ruba’I maziid
Adapun fi’il mujarrod (الْفِعْلُ المُجَرَّدُ) adalah fi’il yang keseluruhannya adalah huruf asli.
Contoh tsulatsi (ثُلاَثِي)
مَنَعَ (mana’a)=melarang
فَرِحَ (faroha)=gembira
حَسُنَ (hasuna)=bagus
Contoh ruba’I (رُبَاعِي)
دَحْرَجَ (dahroja)=menggelincirkan
زَلْزَلَ(zalzala)=menggoncangkan
تَرْجَمَ (tarjama)=menerjemahkan
Sedangkan fi’il maziid (الْفِعْلُ المَزِيْدُ) adalah fi’il yang ditambahkan pada huruf aslinya, berupa satu huruf atau lebih.
Contoh tsulatsi maziid dengan penambahan satu huruf
ََحَسَن (hasana) menjadi أَحْسَنَ (ahsana)=memperbaiki
كَرُمَ (karuma) menjadi كَرَّمَ (karroma)=memuliakan
َشَهِد (syahida) menjadi شَاهَدَ (syaahada)=menyaksikan
Contoh tsulatsi maziid dengan penambahan dua huruf
َطَلَق (tholaqo) menjadi اِنْطَلَقَ (intholaqo)=pergi
َجَهَد (jahada) menjadi اِجْتَهَدَ (ijtahada)=bersungguh-sungguh
تَحَادَثَ (tahaadatsa)=bercakap-cakap
Contoh tsulatsi maziid dengan penambahan tiga huruf
غَفَرَ (gofaro) menjadi اِسْتَغْفَرَ (istagfaro)=meminta ampun
dan seterusnya..
اِغْرَوْرَقَ (igrouroqo)=bercucuran
اِحْمَارَّ (ihmarro)=menjadi merah
Contoh ruba’I maziid dengan penambahan satu huruf
تَدَحْرَجَ (tadahroja)=menggelincirkan
تَبَعْثَرَ (taba’tsaro)=terbalik
Contoh ruba’I maziid dengan penambahan dua huruf
اِطْمَأَنَّ (ithmaanna)=tentram
اِفْرَنْقَعَ (ifronqoa’)=menjauh
jika disimpulkan, maka akan menunjukkan pola sebagai berikut :
Kita mengetahui penambahan kata pada tsulatsi maziid atau ruba'i maziid dengan melihat fi'il madhinya, sehingga ketika kita telah mengetahui fi'il madhi dari fi'il tersebut, kita akan mengetahui huruf ap saja yang menjadi tambahan pada tsulatsi atau ruba'i maziid.
Dari hal ini, huruf dalam fi’il minimal ada tiga huruf dan maksimal ada 6 huruf, adapun untuk isim, maka tidak terbatas, karena banyak sekali kata serapan dari bahasa asing yang masuk ke bahasa arab yang mempengaruhi susunan kata bahasa arab. contohnya kota Jogjakarta, maka jika di bahasa arabkan menjadi جوجاكرت (juujaakarta), mempunyai huruf yang lebih dari enam.
Bahasa Arab 13 : Fi’il laazim dan fi’il Muta’addi
Pelajaran sebelumnya kita membahas fi’il dipandang dari sudut subjeknya.
Adapun fi’il menurut objeknya juga terbagi menjadi 2, yaitu :
- Fii’il laazim (الْفِعْلُ اللَّازِمُ)
- Fi’il muta’addi (الْفِعْلُ الْمُتَعَدِّى)
1. Fi’il laazim
Adalah fi’il yang tidak membutuhkan objek.
Contoh :
قَامَ (qooma)=berdiri
حَضَرَ (hadoro)=hadir
جَلَسَ (jalasa)=duduk
Contoh dalam kalimat :
جَاءَ مُحَّمَدٌ (jaa a muhammadun)= Muhammad datang
Kalimat di atas tidak membutuhkan objek, dan ini sama halnya dengan bahasa Indonesia, kata berdiri, datang atau duduk memang tidak membutuhkan objek.
2. Fi’il muta’addi
Adalah fi’il yang membutuhkan satu objek atau dua objek.
Contoh yang membutuhkan satu objek :
كَتَبَ (kataba)=menulis
ضَرَبَ (dhoroba)=memukul
نَصَرَ (nashoro)=menolong
Contoh dalam kalimat
كَتَبَ مُحَمَّدٌ الرِّسَالَةَ (kataba muhammadun arrisalata)= Muhammad menulis surat
Contoh fi’il yang membutuhkan dua objek :
عَلَّمَ (‘allama)=mengajarkan
أَعْطَي (a’tho)=memberi
كَسَا (kasaa)=memakaikan
Contoh dalam kalimat
واتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلا
(wattakhodzallaahu ibrohiima kholiila)= dan Allah menjadikan ibrohim sebagai kholil
Jika kita melihat kata-kata yang dipakai, baik yang tidak membutuhkan objek, atau membutuhkan objek satu atau dua, bisa kita nalar dengan bahasa indonesia kita, sehingga untuk menentukan dia butuh satu objek atau dua objek, bisa kita ketahui dengan logika kita.
Lalu, adakah cara untuk membuat fi’il laazim menjadi fi’il muta’adi, layaknya fi’il ma’lum menjadi majhul??
Jawabannya “ada” dan inilah salah satu uniknya bahasa arab, kata dasarnya bisa sama, tapi artinya bisa berbeda-beda.
Caranya
1. Dengan menambahkan hamzah (أ) di depan kata sehingga membentuk pola (أَفْعَلَ=af’ala)
Contoh :
خَرَجَ (khoroja)=keluar menjadi أَخْرَجَ (akhroja)=mengeluarkan
دَخَلَ (dakhola)=masuk menjadi أَدْخَلَ (adkhola)=memasukkan
2. Dengan menasdidkan ‘ain fi’ilnya menjadi فَعَّلَ (fa’ ‘ala)
Contoh :
حَسُنَ (hasuna)= bagus menjadi حَسَّنَ (hassana)=membaguskan
خَرَجَ (khoroja)=keluar menjadi خَرَّجَ (khorroja)=mengeluarkan
3. Dengan menambahkan huruf jer pada objeknya.
Contoh :
ذَهَبَ اللهُ بِنُوْرِهِمْ (dzahaballaahu binuurihim)=Allah menghilangkan cahaya mereka
جِئْتُ بِحَسَنٍ (ji’tu bihasanin)=aku datang dengan hasan
Demikianlah cara mengubah fi’il laazim menjadi muta’addi, yang ternyata hanya menambahkan satu huruf saja sudah merubah makna dan jenis dari fi’ilnya. Inilah salah satu alasan mempelajari bahasa arab dapat mencegah seseorang menjadi salah ucap (lahn).
Bahasa Arab 12 : Fi’il majhul dan ma’lum
Pada pembelajaran yang lalu, kita telah membahas pembagian fi’il menurut waktunya, sekarang kita akan membahas pembagian fi’il menurut subjeknya.
Fi’il menurut subjeknya (فاعل), terbagi menjadi 2, yaitu:
- Fi’il ma’lum
- Fi’il majhul
Fi’il ma’lum (اَلْفِعْلُ المَعْلُوْمُ) adalah fi’il yang disebutkan failnya. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini bisa disebut “kata kerja aktif”.
Contoh :
كَتَبَ (kataba)=menulis
قَتَلَ (qotala)=membunuh
فَتَحَ (fataha)=membuka
Kata kerja di atas, termasuk fi’il ma'luml, dimana ia membutuhkan subjek.
Adapun fi’il majhul (الْفِعْلُ المَجْهُوْلُ ) adalah fi’il yang tidak membutuhkan subjek. Dalam bahasa Indonesia biasa disebut kata kerja pasif.
Contoh :
كُتِبَ (kutiba)=ditulis
قُتِلَ (qutila)=dibunuh
فُتِحَ (futiha)=dibuka
Bagaimana cara membuat fi’il majhul dari fi’il ma’lum??
Untuk fi’il madhi, maka kaidahnya :
“Dikasroh huruf sebelum terakhir, dan di dhommah huruf yang berharokat (sebelum huruf terakhir)”
Contoh:
كَتَبَ (kataba) menjadi كُتِبَ (kutiba)
اِسْتَغْفَرَ (istagfaro) menjadi اُسْتُغْفِرَ(ustugfiro)
اِنْفَعَلَ (infa’ala) menjadi اُنْفُعِلَ (unfu’ila)
Adapun untuk fi’il mudhori’, maka kaidahnya :
“Didhommah huruf pertama, dan difathah huruf sebelum terakhir”
Contoh :
يَكْتُبُ (yaktubu) menjadi يُكْتَبُ (yuktabu)
يَسْتَغْفِرُ (yastagfiru) menjadi يُسْتَغْفَرُ (yustagfaru)
يَنْفَعِلُ (yanfa’ilu) menjadi يُنْفَعَلُ (yunfa’alu)
Bagaimana, sudah bisa membuatnya??
Coba kerjakan latihan berikut!
Ubahlah fi’il ma’lum dibawah ini menjadi fi’il majhul
اِنْكَسَرَ (inkasaro)= pecah
اِنْقَلَبَ (inqolaba)=terbalik
يُجَاهِدُ (yujaahidu)=bersungguh-sungguh
يَسْتَمِعَ (yastami’u)=mendengar
اِسْتَخْرَجَ (istakhroja)=meminta keluar
يَسْتَخْرِجُ (yastakhriju)=meminta keluar
Bahasa Arab 11 : Pembahasan mengenai Fi’il
Setelah kita membahas tentang isim, pada kesempatan ini kita mencoba untuk membahas mengenai fi’il.
Pada awal pelajaran yang lalu, kita ketahui bahwa fi’il adalah suatu kata yang mempunyai makna yang berkaitan dengan waktu. Perbedaannya dengan isim adalah pada sisi waktunya.
Fi’il terbagi menjadi 3, yaitu :
- Fi’il madhi (الفعل الماضي)
- Fi’il mudhori (الفعل المضارع)
- Fi’il amr (فعل الأمر)
Fi’il madhi
Fi’il madhi adalah fi’il yang menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu lampau atau past tense di dalam bahasa inggris.
Contohnya :
خَلَقَ (kholaqo)=telah menciptakan
خَرَجَ (khoroja)= telah mengeluarkan
أََمَرَ (amaro)=telah memerintahkan
أَكَلَ (akala)=telah memakan
Dengan berbekal isim dhomir yang telah kita pelajari sebelumnya, fi’il di atas dapat kita rubah sesuai dengan dhomir atau kata gantinya.
Contoh :
خَلَقَ (kholaqo)=dia (lk) telah menciptakan
خَلَقَا (kholaqoo)= dia (2 org lk) telah menciptakan
خَلَقُوا (kholaquu)=mereka (lk) telah menciptakan
خَلَقَتْ (kholaqot)=dia (pr) telah menciptakan
خَلَقَتَا (kholaqotaa)= (2 org lk) telah menciptakan
خَلَقْنَ (kholaqna)= mereka (pr) telah menciptakan
خَلَقْتَ (kholaqta)=kamu (lk) telah menciptakan
خَلَقْتُمَا (kholaqtuma)=kamu (2 org lk) telah menciptakan
خَلَقْتُمْ (kholaqtum)=kalian (lk) telah menciptakan
خَلَقْتِ (kholaqti)=kamu (pr) telah menciptakan
خَلَقْتُمَا (kholaqtuma)=kamu (pr) (2 org lk) telah menciptakan
خَلَقْتُنَّ (kholaqtunna)=kalian (pr) telah menciptakan
خَلَقْتُ (kholaqtu)=saya telah menciptakan
خَلَقْنَا (kholaqnaa)=kami telah menciptakan
Atau dalam kata yg lain
Perubahan kata di atas, termasuk ke dalam ilmu shorof atau dengan kata lain tasrif lughowi
Fi’il mudhori
Fi’il mudhori adalah fi’il yang menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi pada waktu sekarang atau akan datang. Jadi bisa continous tense atau future tense.
Contoh :
يَخْلُقُ (yakhluqu)=sedang/akan menciptakan
يَخْرُجُ (yakhruju)= sedang/akan mengeluarkan
يَأْمُر (ya’muru)= sedang/akan memerintahkan
يَأْكُلُ (ya’kulu)= sedang/akan memakan
Tasrif lughowinya
Urutan kata gantinya sama dengan fi’il madhi.
Fi’il amr
Fi’il amr adalah fi’il yang menunjukkan atas suatu tuntutan, atau dalam kata lain disebut kata perintah.
Contoh :
اُدْخُلْ (udkhul)=masuklah
اُخْرُُجْ (ukhruj)=keluarlah
إِجْلِسْ (ijlis)=duduklah
اِِرْفَعْ (irfa’)=angkatlah
Tashrif lughowinya
Karena berupa perintah, maka kata ganti pertama dan ketiga tidak ada.
Latihan :
Tashriflah kata2 berikut
اِِجْلِسْ – اُتْرُكْ – اِِظْهَرْ - اِسْمَعْ
خَرَجَ – أََمَرَ – أَكَلَ
يَخْلُقُ – يَخْرُجُ – يَأْمُرُ – يَأْكُلُ
Tentukan fi’il dari hadit berikut
اَلْيَوْمَ قُمْتُ إِلَى الْاِخْتِبَارِ. لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ. وَ أَنَا تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ. يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَكْرِمْنِيْ
بِالْإِسْلَامِ. أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَنْفَعَــنَا بِهِ يَوْمَ الدِّيْنِ. ذَهَبْـتُ إِلَى الْمَسْجِدِ ثُمَّ صَلَّيْتُ صَلَاةً إِيْمَانًا بِاللهِ. بَعْدَ ذَلِكَ, رَأَيْتُ
رَجُلَيْنِ يَقُوْمَانِ أَمَامَ
الْمَسْجِدِ. ثُمَّ دَخَلَا وَ صَلَّيَا جَالِسَيْنِ. قُلْتُ لَهُمَا بَعْدَ الصَّلَاةِ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ
عَمَلًا. وَقَالَ تَعَالَى:إِنّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ. كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُوْرًا وَ مَسْجِدًا.
Bahasa Arab 10 : Binaa nya Isim
Contoh :
هَذَا جَدِيْدٌ (haadza jadiidun) = ini baru
قَرَأْتُ هَذَا (qoro’tu haadza)= aku membaca ini
فِي هَذَا قِِصَصٌ (fii haadza qishoshin)= dalam kisah ini
Dari contoh di atas, kata “haadza” tidak berubah sebagaimana halnya kata “rojulun” yang bisa menjadi “rojulin” atau “rojulan”. Hal ini dikarenakan kata “haadza” merupakan isim yang bina, atau dalam istilah lain disebut isim mabni.
Sehingga dari hal tersebut, kata “haadza” tidak berubah menjadi “haadzi” atau “haadzu” sebagaimana pada isim mu'rob, baik kata tersebut dalam keadaan marfu, mansub atau majrur.
Tanda binanya isim terbagi menjadi 4:
- Mabni atas dommah : نَحْنُ (nahnu)=kami
- Mabni atas fathah : أَنْتَ – كَيْفَ (anta-kaifa)=kamu-bagaimana
- Mabni atas kasroh : أَنْتِ (anti)=kamu muannasts
- Mabni atas sukun : هُمْ (hum)= mereka
Hal ini menunjukkan, walaupun suatu isim mabni dia mempunyai keadaan marfu, mansub atau majrur maka bentuk akhirnya tetap sama, yakni tidak berubah sebagaimana isim mu'rob.
Adapun isim-isim yang mabni adalah
1. ضمائر (dhomaair)= isim dhomir
2. اسم الإشارة (ismul isyaaroh)= kata tunjuk
Yakni :
هذا (haadza)=ini; mudzakkar; tunggal
هذه (haadzihi)= ini; muannasts; tunggal
هذان (haadzaani)= ini; mudzakkar; dobel
هتان (haataani)= ini; muannasts; dobel
هؤلاء (haulaa i)= ini; mudzakkar dan muannasts; jamak
ذالك (dzaalika)= itu; mudzakkar; tunggal
ذانك (dzaanika)= itu; mudzakkar; dobel
تلك (tilka)= itu; muannasts; tunggal
تانك (taanika)= itu; muannasts; dobel
أولئك (uulaaika)= itu; mudzakkar dan muannasts; jamak
catatan: adapun utk kata tunjuk yang dobel, maka ia adalah mu'rob, bukan mabni, sehingga bisa menjadi "هذين" (haadzaini) atau "هتين" (haataini)
3. اسم الإستفهام (ismul istifham)= kata Tanya
Contoh :
من (man)= siapakah?
أين (aina)= dimanakah?
كيف (kaifa)= bagaimanakah?
dll
4. اسم الشرط (ismus syarti)= kata syarat
Contoh :
متي (mata)= kapanpun
ما (maa)= apapun
dll
5. الإسم الموصول (al ismul maushuul)= kata penghubung
Yakni :
الذي (alladzii)= yang; mudzakkar; tunggal
الذان (alladzaani)= yang; mudzakkar; dobel
الذين (alladziina)= yang; mudzakkar; jamak
التي (allatii)= yang; muannats; tunggal
التان (allataani)= yang; muannasts; dobel
الائي/الاتي (allaaii/allaatii)= yang; muannasts; jamak
catatan: adapun utk isim mausul atau kata sambung yang dobel, maka ia adalah mu'rob, bukan mabni, sehingga bisa menjadi "الذين" (alladzaini) atau "التين" (allataini)
Perlu ditekankan kembali, bahwasanya isim-isim yang mabni tetap dalam bentuknya waulupun dia berada dalam keadaan marfu, mansub atau majrur.
Soal latihan:
Carilah isim-isim yang mabni dari dengan jenis isimnya dari ayat di bawah ini.
2. ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ (QS. ar-Ruum, 30)
Bahasa Arab 9 : Asma'ul Khomsah dan I'rob Isim
Asmaa’ul khomsah dan I’rob isim
Diantara isim-isim yang ada, terdapat isim yang dinamakan dengan asma’ul khomsah, yakni isim-isim yang lima yang berbeda dengan isim-isim lainnya, isim-isim tersebut adalah
ابو (abuu)=(bapak)
اخو (akhuu)=(saudara)
فو (fuu)= (mulut)
حمو (hamu)=(ipar)
ذو (dzuu)=(memiliki)
...........
Mungkin pada awalnya terjadi kebingungan yang sangat besar di dalam mempelajari bahasa arab ini, dan hal ini sudah biasa dialami para pemula, dimana kita disodorkan berbagai jenis-jenis isim dengan nama-nama yang belum pernah kita dengar, yang terkadang bukannya menambah pengetahuan kita akan bahasa arab akan tetapi menambah kebingungan dan anggapan sulitnya belajar bahasa arab.
Lantas apa maksud pengenalan dari isim-isim tersebut??, kenapa dibedakan antara isim yang satu dengan isim yang lainnya?? Jawabannya adalah pada I’rob isim itu sendiri.
I’rob adalah berubahnya keadaan akhir suatu kata, baik perubahan harokat atau huruf, karena kemasukan penyebab.
Dalam pembahasan ini, kita akan mengetahui apa maksud perbedaan bentuk isim yang telah kita pelajari, dimana isim mutsanna, isim maqsur, isim mufrod mempunyai bentuk yang berbeda-beda dan bahkan yang terakhir asma’ul khomsah yang mempunyai tiga cara baca, dan hanya memiliki 5 kata, apa yang membedakannya??, dan kapan pemakaian setiap bentuknya??
Perhatikan tabel berikut
Di dalam bahasa arab, keadaan suatu kata terbagi menjadi 4, dan ini hanya merupakan istilah yang tidak perlu diterjemahkan.
- Marfu
- Mansub
- Majrur
- Majzum
Untuk isim, keadaan kata hanya terbagi 3, yakni marfu, mansub dan majrur, adapun fi’il mempunyai keadaan berupa marfu, mansub dan mazjum saja.
Di pembahasan ini, kita tidak membicarakan kapan isim mempunyai keadaan marfu, mansub atau majrur, namun difokuskan pada “bagaimana bentuk kata atau isim ketika marfu, mansub atau majrur?”.
........
Dari tabel di atas, kita bisa melihat perubahan bentuk isim-isim yang telah dipelajari, baik marfu, mansub atau majrur nya. Dan disinilah letak perbedaan dari kesembilan isim di atas. Setiap jenis isim mempunyai bentuknya masing-masing yang harus disesuaikan dengan keadaannya. Sehingga dapat diketahui nama isim dengan melihat keadaan marfu, mansub atau majrur nya. Pengenalan akan hal ini sangat penting, salah kita dalam menentukan atau membuat keadaan suatu kata atau isim, maka akan salah pula di dalam pengartian dan makna yang diinginkan.
Oleh karenanya, menghafal dan memahami tabel tersebut merupakan suatu kewajiban bagi orang yang ingin menguasai bahasa arab. Tidak hafal tabel di atas, jangan harap bisa menguasai bahasa arab.
Misalnya di dalam sebuah surat al-imron ayat 97 disebutkan
Kata ءَايَاتُُ mempunyai keadaan marfu dengan tanda dhommah, karena ia merupakan isim jamak muannats salim. Hal ini diketahui dengan melihat tabel bahwa kata tersebut berakhiran alif dan ta yang menunjukkan ciri jamak muannats.
Begitu juga kata إِبْرَاهِيمَ mempunyai keadaan majrur dengan tanda fathah, karena ia isim laa yanshorif atau goiru munshorif yang diketahui dari bentuk kata yang merupakan nama a’jam atau nama non arab.
Kemudian kata الْعَالَمِينَ mempunyai keadaan majrur dengan tanda ي (ya) yang merupakan ciri majrurnya isim jamak mudzakkar salim. Keadaan ini juga diketahui dari bentuk-bentuk isim yang telah kita pelajari sebelumnya.
Catatan:
Perlu ditekankan disini, yang namanya pelajaran bahasa, membutuhkan pembelajaran yang continue, sehingga pelajaran-pelajaran yang ada, antara satu dengan yang lainnya saling terkait. Ketika dasar dari pembahasan sebelumnya belum dikuasai, maka akan sulit untuk memahami secara keseluruhan, dan hal inilah yang menyebabkan adanya anggapan orang, bahwa belajar bahasa arab itu sulit, padahal bukan sulitnya yang menyebabkan tidak bisa menguasai bahasa arab, akan tetapi tidak konsisten dan kontinunya di dalam mempelajarinya.
Soal Latihan
Tentukan keadaan isim beserta tanda dan jenis isimnya.
Bahasa Arab 8 : Isim maqsur, isim mankus dan isim laa yanshorif
1. Isim maqsur adalah isim yang berakhiran alif lazimah atau alif bengkok (dalam istilah orang jawa) yang huruf sebelum alif difathah.
Contoh :
مُوْسَى (muusa) = musa
مُصْطَفَى (mushtofa) = yang terpilih
Dari kata di atas, mempunyai akhiran yang disebut dengan alif lazimah atau alif bengkok yang biasa disebut orang jawa.
Sehingga ketika menemukan kata dengan akhiran alif bengkok serta huruf sebelum alif bengkok tersebut di fathah, maka kata tersebut adalah isim maqsur
2. Isim mankus adalah isim yang berakhiran ya lazimah yang huruf sebelumnya di kasroh.
Contoh :
الْهَادِي (al-haadi) = yang memberi petunjuk
الْقَاضِى (al-qoodi) = hakim
Perbedaan antara isim mankus dan maqsur adalah pada harokat huruf sebelum alif atau ya lazimah, dimana ketika huruf kedua terakhir di fathah, ia adalah maqsur, akan tetapi jika sebelumnya adalah kasroh, ia adalah mankus.
3. Isim laa yanshorif
Adalah isim yang tidak boleh ditanwin dan dikasroh.
Bentuk-bentuknya :
- Mengikuti pola (َمَفَاعِل = mafaa’ila)
Contoh :
َمَسَاجِد (masaajida)=masjid
- Berupa isim mamdud atau isim yang diakhiri oleh alif + hamzah (ا +ء).
Contoh :
ُصَفْرَاء (shofroo u) = kuning
ُبَيْضَاء (baidhoo u) = putih
- Nama atau sifat yang diakhiri alif dan nun.
Contoh :
ُسَكْرَان (sakroonu) = mabuk
ُغَضْبَان (godhbaanu) = marah
ُسَلْمَان (salmaanu) = salman
- Nama dengan pola فعل (fu’alu)
Contoh :
ُعُمَر (umaru) = umar
ُزُفَر (zufaru) = zufar
- Nama dengan pola افعل (af’alu)
Contoh :
ُاَحْمَد (ahmadu) = ahmad
ُاَحْسَن (ahsanu) = ahsan
- Nama perempuan atau laki-laki yang diakhiri ta marbuthoh (ة)
Contoh :
ُعَائِسَة (‘aaisyatu) = aisyah
ُمُعَاوِيَّة (muaawiyatu) = muawwiyah
- Nama asing atau nama non arab
Contoh :
ُيُوسُف (yuusuf) = yusuf
ُمَرْيَم (maryamu) = maryam
- Nama kota
Contoh :
َجُوْجَاكَرْت (juujaakarta) = Jogjakarta
Dari kedelapan bentuk di atas, kata-kata tersebut tidak boleh ditanwin dan di kasroh, akan tetapi kata-kata tersebut menjadi wajib dikasroh jika
• Sebagai mudhof
Contoh :
ْصَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدِِهِم (shollaitu fii masaajidihim) = aku sholat di dalam masjid mereka
Jika kata tersebut tidak dimudhofkan maka menjadi
َصَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدَ (shollaitu fii masaajida) = aku sholat di dalam masjid
• Ada tambahan alif lam di awal kata
Contoh :
عَنْ المُغِيْرَةِ (‘anil mugiiroti) = dari mugiroh
Jika alif lamnya dihilangkan, maka dibaca
عَنْ المُغِيْرَةَ (‘anil mugiirota) = dari mugiroh
referensi tambahan dapat melihat site
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-18-isim-ghoirul-munshorif.html
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-16-pembagian-isim-ditinjau-dari-sisi-bangunan-akhirnya.html
Bahasa Arab 7 : Pembahasan mufrod, mutsanna dan jama'
A. Isim mufrod
Adalah isim yang menunjukkan sesuatu yang satu atau kata tunggal
Contoh :
مُؤْمِنٌ (mu’minun) = seorang lmukmin
مُؤْمِنَةٌ(mu’minatun) = seorang mukminah
B. Mutsanna
Adalah isim yang menunjukkan bilangan dua atau dobel.
Contoh :
مُؤْْمِنَانِ/ مُؤْْمِنَيْنِ (mu’minaani/mu’minaini) = dua orang mukmin
مُؤْمِنَتَانِ/ مُؤْمِنَتَيْن (mu’minataani/mu’minataini) =dua orang mukminah
Dari contoh di atas, untuk mengubah isim mufrod menjadi isim mutsanna adalah dengan cara menambahkan huruf ا + ن (alif dan nun) atau ي + ن (ya dan nun).
(mu’minaani) مُؤْمِنٌ + ا + ن = مُؤْْمِنَانِ
(mu’minataani) مُؤْمِنَةٌ + ا + ن = مُؤْمِنَتَانِ
(mu’minaini) مُؤْمِنٌ + ي + ن = مُؤْْمِنَيْنِ
(mu’minataini) مُؤْمِنَةٌ + ي + ن = مُؤْمِنَتَيْن
C. Jamak
Adalah isim yang menunjukkan bilangan lebih dari 2 atau banyak.
Jamak terbagi menjadi tiga, ada yang disebut dengan jamak mudzakkar salim, jamak muannats salim dan jamak taksir.
- Jamak mudzakkar salim
Jamak yang menunjukkan laki-laki yang dibuat dengan cara menambahkan huruf و (wau) + ن (nun) atau ي (ya) + ن (nun) pada isim mufrodnya.
Contoh:
كَافِرٌ (kaafirun) menjadi كَافِرُوْنَ/كَافِرِيْنَ (kaafiruuna/kaafiriina) =orang-orang kafir
- Jamak muannats salim
Jamak yang menunjukkan perempuan yang dibuat dengan cara menambahkan huruf ا (alif) + ت (ta) pada akhir isim mufrodnya.
Contoh :
مُدَرِّسَةٌ (mudarrisatun) menjadi مَدَرِّسَاتٌ (mudarrisaatun) = guru-guru perempuan
- Jamak taksir
Jamak yang berubah dari bentuk mufrodnya. Dalam jamak ini, tidak ada kaidah untuk membuat jamak taksir seperti jamak mudzakkar atau muannats salim. Sehingga untuk mengetahuinya dengan menggunakan kamus atau banyaknya membaca dan menelaah kitab.
Contoh :
قَلْبٌ (qolbun) menjadi قُلُُوْبٌ (quluubun) = hati
رَسُوْلٌ (rosuulun) menjadi رُسُلٌ (rusulun) = rosul
عَالِمٌ (‘aalimun) menjadi عُلَمَاءُ (‘ulamaa u) = orang yang berilmu
Catatan:
Suatu isim mufrod hanya mempunyai salah satu bentuk jamak, entah itu jamak mudzakkar saja, jamak muannats saja atau jamak taksir saja, dan sangat jarang ditemukan suatu isim mufrod yang mempunyai dua bentuk jamak, walaupun ada isim mufrod yang mempunyai dua isim jamak sekaligus, seperti kata ناصر (naashirun)=orang yang menolong.
ناصر (naashirun) menjadi ناصرون (naashiruuna) = jamak mudzakkar salim
ناصر (naashirun) menjad أنصار (anshoorun) = jamak taksir
Soal latihan
Buatlah isim mutsanna dan jamak dari isim mufrod berikut!
كَلِمَة ٌ (kalimatun) = kata
عَائِسِةُ ('aaisyatu) = aisyah
مَخْلُوْقَةٌ (makhluuqun) = makhluk
اَلرَّجُلُ (arrojulu) = laki-laki
اَلْفَقِيْرُ (alfaqiiru) = fakir
Bahasa Arab 6 : Isim mudzakkar dan isim muannats
Pembahasan mengenai isim mudzakkar (مُذَكَّر) dan muannats مُؤَنَّث
1. Isim mudzakkar adalah isim yang menunjukkan laki-laki.
Isim mudzakkar terbagi dua
- Mudzakkar haqiqi (مذكر حقيقي) yakni mudzakkar yang menunjukkan manusia dan hewan.
Contoh :
أَبٌ (abun) = bapak
أَسَدٌ (asadun) = singa
- Mudzakkar majazi (مذكر مجازي) yakni mudzakkar yang tidak menunjukkan manusia dan hewan.
Contoh :
بَيْتٌ (baitun) = rumah
إِنَاءٌ (inaaun) = bejana
2. Isim muannats adalah isim yang menunjukkan perempuan.
Isim muannats juga terbagi dua :
- Muannats haqiqi
Contoh :
أُمٌ (ummun) = ibu
أَتَانٌ (ataanun) = keledai
- Muannats majazi
Contoh :
شَمْسٌ (syamsun) = matahari
سَمَاءٌ (samaaun) = langit
Untuk memudahkan di dalam membedakan antara mudzakkar dan muannast, berikut disertakan macam-macam muannats.
a. Nama dan panggilan perempuan.
Contoh :
خَدِيْجَةُ ( khodiijatun) = khodijah
زَيْنَبُ (zainabu) = zainab
b. Nama Negara dan kota.
contoh :
مِصْرَ (misro) = mesir
جُوْجَاكَرْتَا (juujaakartaa) = Jogjakarta
c. Nama anggota tubuh yang berpasangan.
Contoh :
عَيْنٌ (‘ainun) = mata
يَدٌ (yadun) = tangan
d. Sifat kewanitaan.
Contoh :
ٌمُرْضِع (murdi’un) = perempuan yang menyusui
حَامِلٌ (haamilun) = hamil
e. Ada ta marbuthoh (ة) di akhir kata, selain nama laki-laki
Contoh :
مُسْلِمَةُ (muslimatun) = muslimah
صَابِرَةُ (shoobirotun) = perempuan yang sabar
f. Jamak taksir
contoh :
قُلُُوْبٌ (quluubun) = hati
رُسُلٌ (rusulun) = rosul
Catatan:
1. Ada banyak sekali isim yang tidak mempunyai tanda muannats namun termasuk isim muannats.
Contoh :
جَهَنَّمٌ (jahannamun) = neraka jahannam
أَرْضٌ (ardhun) = bumi
نَارٌ (naarun) = api
Sehingga ketika tidak ada tanda-tandanya, untuk mengetahui apakah suatu isim termasuk muannats atau mudzakkar, biasanya merujuk kepada kamus, banyak menelaah kitab atau sering berinteraksi dengan orang arab.
2. Ada isim yang mempunyai tanda muannats namun termasuk mudzakkar.
Contoh :
مُعَاوِيَةُ (muaawiyah)
حَمْزَة (hamzah)
طَلْحَة (tholhah)
soal latihan :tentukan manakah yg termasuk muannats dan mudzakkar
نَاصِرٌ (naashirun) = orang yg menolong
كَلِمَة (kalmatun) = kata
عَائِسِةُ ('aaisyatun) = aisyah
مَخْلُوْقَةٌ (makhluuqun) = makhluk
اَلرَّجُلُ (arrojulu) = laki-laki
اَلْفَقِيْرُ (alfaqiiru) = fakir
Referensi tambahan
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-13-mudzakkar-muannats.html
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-14-tanda-tanda-isim-muannats.html
Bahasa Arab 5 : Pembahasan mengenai Jumlah
Jumlah dalam bahasa arab berarti "kalimat" di dalam bahasa Indonesia, yakni kalimat yang mempunyai faidah sempurna.
Contoh :
آمَنْتُ بِاللهِ (aamantu billah) = Aku beriman kepada Allah
أَعْطَي مُحَمَّداً لَبَننًا (a’tho muhammadan labanan) = Aku memberi Muhammad susu
Sehingga dari kalimat di atas, yang mempunyai predikat dan objek disebut juga dengan jumlah mufidah (جملة مفيدة)atau kalimat sempurna.
Jumlah mufidah atau kalimat sempurna di dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah
1. Jumlah ismiyyah adalah jumlah yang awal katanya berupa isim.
Contoh :
مُحَمَّدٌ نَبِيٌٌّ (muhammadun nabiyyun) = Muhammad adalah seorang nabi
اَلأُسْتَاذُُ مَرِيْضٌ (al-ustaadzu mariidhun) = ustadz itu sakit
2. Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang awal katanya adalah fi’il
Contoh :
جَاءَ مُحَمَّدٌ (jaa a muhammadun) = Muhammad telah datang
رَجَعَ الأُسْتَاذُُ (roja’al ustaadzu) = ustadz telah kembali
Ada jumlah yang sempurna, mengindikasikan adanya jumlah yang tidak sempurna , yang biasa disebut dengan sibhul jumlah (شبه الجملة).
Sibhul jumlah merupakan susunan kata yang menyerupai jumlah atau bisa disebut juga kalimat tak sempurna. Sibhul jumlah terdiri dari dua macam, yaitu jer wa majrur dan dzorof wa mudhof ilaih
1. جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ (jaarun wa majruurun)
Adalah susunan kata yang terdiri dari huruf jer dan isim
Contoh :
عَلَى السَّمَاءِ (‘alassamaai) = di atas langit
مِنَ اللهِ (minallahi) = dari Allah
فِي السُّوْقِ (fissuuqi) = di dalam pasar
2. ظَرْفٌ وَ مُضَافٌ إِلَيْهِ (dzorof wa mudhoofun ilaihi)
Adalah susunan kata yang terdiri dari kata keterangan berupa waktu atau tempat dan isim
Contoh :
أمَامَ المَنْزِلِ (amaamal manzili) = di depan rumah
فَوْقَ البَيْتِ (fauqol baiti) = di atas rumah
وَرَاءَ المَسْجِدِ (warooal masjidi) = di belakang masjid
Pemahaman terhadap jumlah, memberi bekal kepada kita di dalam mengetahui makna suatu ayat atau hadist. Karena perlu diketahui, perubahan kata, harokat, letak dan posisi kata dalam jumlah sangat mempengaruhi dalam pengartian dan pemaknaan suatu ayat. Salah dalam penempatan kata, salah pula maksud yang diinginkannya.
Sebagai contoh adalah apa yang ada di dalam al-qur’an surat al-a’rof : 180
وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى (walillahil asmaa’ul husna)
Jika kita artikan secara per kata, maka artinya adalah “dan kepunyaan Allah nama-nama yang indah”.
Akan tetapi, jika kita memahami ayat di atas dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang benar, kita dapat mengetahui bahwa ada yang kurang di dalam pengartian tersebut, dimana pengartian yang benar adalah “dan hanya kepunyaan Allah lah nama-nama yang indah”.
Perbedaannya ada pada kata “hanya”. Namun ini sangat fatal, jika dikatakan sesuai dengan pengartian yang pertama, bisa mengindikasikan adanya makhluk lain yang nama-namanya indah seperti nama Allah ta’ala, yang berarti mensejajarkan Allah dengan makhluknya di dalam nama yang indah.
Padahal maksud ayat ini tidak demikian, dimana hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang indah, dan tidak ada yang menandingi bahkan sejajar dengan Allah walaupun dalam hal nama.
Sehingga dari hal ini, kita bisa mengambil pelajaran, jangan sekali-kali menggunakan nama yang khusus untuk Allah sebagai nama untuk anak-anak kita bahkan untuk hewan-hewan peliharaan kita, karena hal tersebut bisa termasuk penghinaan terhadap Allah ta’ala.
............
Contoh yang lain adalah kisah yang diutarakan oleh bapak ilmu nahwu pertama, Abul Aswad Adduali, dimana ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di malam hari, sang anak terlihat menghadapkan wajahnya kelangit seraya berkata :
مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِِ (maa ahsanus samaa’I ??) = apa yang bagus dilangit ??
Maka sang ayah pun menjawab:
نجومها (nujuumuha) = bintang-bintangnya
Mendengar jawaban itu, sang anak menyanggah dengan mengatakan “aku tidak bermaksud bertanya, melainkan menunjukkan kekaguman”.
Lalu sang ayah berkata “klo begitu ucapkanlah
مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ (maa ahsanas samaa’i) = betapa indahnya langit-langit
Dari kedua contoh ini, sangat jelaslah manfaat kita mengetahui berbagai kaidah di dalam bahasa arab salah satunya dalam pembahasan jumlah. Adapun untuk pembahasan mengenai alasan pengartian dan pembacaan dari kedua contoh di atas, insyaAllah pada pembelajaran selanjutnya.
Soal latihan, tentukan jenis jumlah mufidah dari kalimat berikut
1. كُلُّهُمْ فِيْ النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً.
(kullukum finnaari illa millatan waa hidatan)
"semuanya masuk neraka kecuali satu golongan (yakni, alhussunnah wal jama'ah)"
2. لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ.
(laa tazaalu thooifatun min ummati dzoohiriina 'alal haqqi)
"akan senantiasa ada dari umatku yang selalu menampakkan kebenaran"
3. تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَ الرُّوْحُ فِيْهَا.
(ta'rujul malaaikatu warruuhu fiihaa)
"malaikat dan ruh naik kepadanya"
4. يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ.
(yursalu alaikuma syuwaadzun minnaari)
"keduanya ditimpa panas dari neraka"
5. وَأَوْصَانِيْ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَوةِ مَادُمْـتُ حَيًّا.
(wa awshhoonio bissholaati wazzakaati maa dumtu hayyan)
6. لَا يَزْنِيْ الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
(laa yaznizzaani hiina yazni wa huwa muminum)
7. اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ.
(assalamu'alaikum ahladdiyaar minal muminiina)
8. هَذَا الْيَوْمُ يَوْمُ الْأَحَدِ
(haadzal yaumu yaumul ahadi)
Referensi tambahan :
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-8-jumlah-mufidah.html
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-9-syibhul-jumlah.html
http://badar.muslim.or.id/artikel/sejarah-asal-mula-ilmu-nahwu.html
Bahasa Arab 4 : Huruf dan Isim Dhomir
Contoh :
Kata مِنْ (dari) tidak akan bermakna atau tidak mempunyai arti jika bersendirian, dari mana?? Maksud dari kata tidak jelas, akan tetapi jika ditambah kata lain seperti مِنَ البَيْتِ (dari rumah), kata menjadi bermakna .
Begitu juga kata فِي (di dalam), tidak akan bermakna jika tidak ditambah dengan kata yang lainnya. Hal ini berbeda dengan isim dan fi’il yang maknanya bisa kita pahami walaupun tanpa tambahan kata yang lain. Sehingga, ketika menemukan suatu kata yang maknanya tidak bisa dipahami, maka ketahuilah kata itu merupakan huruf.
Bentuk dan jenis huruf bermacam-macam, ada yang disebut dengan huruf mabani dan ada yang disebut dengan huruf ma’ani.
1. Huruf mabani (حَرْفُ مَبَانِي)
Adalah huruf-huruf hijaiyah selain huruf ا و ي , karena ketiga huruf tersebut dikatakan sebagai huruf ilat (حَرْفُ العِلَّةِ) atau huruf penyakit.
2. Huruf ma’ani (حَرْفُ مَعَانِي)
Adalah huruf-huruf yang mempunyai arti
Contoh :
اَوْ atau
وَ dan
ثُمََّ kemudian
اِذَا ketika
لِ milik
Jenis-jenis huruf ma’ani bermacam-macam diantaranya :
a. Huruf jar (حرف جَارٍ) yang telah kita bahas pada pelajaran kedua.
b. Huruf qosam (حرف قسم) atau disebut juga huruf sumpah. Huruf qosam ada tiga, yakni و ت ب
Contoh :
وَاللهِ – بِاللهِ – تَاللهِ (demi Allah)
Namun, dari ketiga huruf sumpah di atas, huruf ت hanya boleh digunakan untuk sumpah atas nama Allah ta’ala, adapun huruf yang lainnya boleh digunakan untuk selain nama Allah ta’ala.
c. Huruf athof (حرف العطف)
Adalah huruf yang digunakan untuk menggabungkan dua kata.
Contoh :
و (dan) misal جَاءَ مُحَُّمَدٌ وَ حَسَنَ (Muhammad dan Hasan datang)
او (atau) misal ضَرَبَ حَسَنٌ كلَْبًا اَوْ قِطًا (Hasan memukul anjing atau kucing)
ثم (kemudian) misal مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ (atas kehendak Allah kemudian kehendakmu)
Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa ada huruf yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan letak dan kedudukan dalam kalimat, seperti huruf و , disisi lain ia bisa sebagai huruf athof dan disisi lain dia bisa menjadi huruf qosam. Untuk mengetahuinya dapat dilihat dari arti atau kontek kalimat yang digunakan.
Masih banyak lagi jenis huruf yang akan disebutkan pada pelajaran berikutnya.
Isim dhomir (اسم ضمير)
Merupakan isim yang digunakan sebagai kata ganti, diantaranya:
Namun, jika isim dhomir bergandengan dengan isim yang lain, maka bentuknya seperti dibawah ini :
Contoh :
رَبُّكَ Tuhanmu
كِتاَبِي Kitabku
كِتَابِنَا Kitab Kami
Dari hal ini, ketika berdoa dihadapan orang banyak, seperti doa di akhir khutbah jum’at, hendaknya menggunakan kata نا bukan ي dalam berdoa, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para khotib, seperti membaca doa
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَي دِيْنِكَ
(wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku pada agamamu)
Padahal seharusnya, ketika dibaca dihadapan orang banyak, harus dibaca dengan kalimat
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَي دِيْنِكَ
(wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami pada agamamu)
Soal latihan
Tentukan isim, fi’il dan huruf dari hadist berikut :
Referensi tambahan mengenai huruf
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-2-alharfu.html
referensi tambahan mengenai dhomir
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-17-dhomir-kata-ganti-orang.html
Bahasa Arab 3 : Fi'il dan Ciri-cirinya
Pembahasan mengenai Fi’il dan ciri-cirinya
Fi’il adalah kata yang menunjukkan makna, namun berkaitan dengan waktu.
Contoh :
ضَرَبَ : memukul ذَهَبَ : pergi أَرْسَلَ : mengutus
خَلَقَ : mencipta قَتَلَ : membunuh شَرِبَ : minum
Dari contoh di atas, Fi’il merupakan kata yang menunjukkan suatu perkerjaan, di dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan kata kerja.
Untuk mengetahui suatu kata adalah Fi’il, dapat diketahui dengan ciri-ciri yang ada pada Fi’il.
Diantaranya :
1. Terletak setelah huruf قَدْ (sungguh)
Contoh :
Artinya : Sungguh telah jelas antara jalan yang benar dan sesat (al-baqoroh : 256)
Kata تَبَيَّنَ merupakan Fi’il karena terletak setelah huruf قَدْ
2. Terletak setelah huruf اَلسِِّيْنُ ) سَـ.) (akan)
Contoh :
سَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّة (umat ini akan terpecah.)
3. Terletak setelah huruf سَوْفَ (kelak)
Contoh :
Artinya : sekali-kali tidak, mereka kelak akan mengetahuinya. (Attakatsur : 3)
4. Bersambung dengan تَاءُالتَأْنِيْث ِالسَاكِنَةُ (huruf ت sukun yang menunjukkan perempuan)
Contoh :
قَالَتْ عَائِشَةُ (Aisyah berkata)
5. Jika suatu kata diawali oleh huruf ا ن ي ت maka kemungkinan besar kata tersebut adalah Fi’il
Contoh :
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ (diutus kepada keduanya panas dari neraka)
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَ الرُّوْحُ فِيْهَا
أَكْتُبُ عَليَ الْمَكْتَبِ (aku menulis di atas meja)
نَضْرِبُ كَلْبًا (kami memukul anjing)
Untuk memperlancar mengetahui Fi’il dari suatu kata, bisa mencoba latihan berikut.
Manakah yang termasuk fi’il dari ayat berikut, beserta tanda-tandanya!! (jika huruf tidak jelas, bisa dicopy terlebih dahulu kedalam word)
Referensi tambahan dapat melihat site
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-5-ciri-ciri-fiil.html
Bahasa Arab 2 : Pengenalan Isim dan Tanda-tandanya
- Isim
- Fi’il
- Huruf
Pada pelajaran kedua ini, kita hanya membahas isim terlebih dahulu.
Pengertian isim
Isim adalah kata yang bermakna namun tidak terikat dengan waktu.
Contoh :
دِيْنٌ : agama بَيْتٌ : rumah دَيْنٌ : hutang
قَلَمٌ : pena بَابٌ : pintu شَجَرَةٌ : pohon
Dengan melihat contoh di atas, dapat kita katakan bahwa isim merupakan kata benda menurut bahasa Indonesia.
Di dalam bahasa arab, kita dapat mengetahui suatu kata disebut sebagai isim dengan mengetahui ciri-cirinya.
Diantara ciri-ciri isim adalah
1. Berharokat kasroh atau kasrohtain : Jika suatu kata mempunyai akhiran kasroh, maka bisa dikatakan ia adalah isim.
Contoh :
Kata yang di garis bawah (للهِ dan لإِْسْلاَمِ) di atas termasuk isim, dikarenakan akhiran katanya berupa harokat kasroh.
2. Tanwin : Jika suatu kata berakhiran tanwin, maka ia adalah isim.
Contoh :
Kata bergarisbawah (مَثَلاً كَلِمَةً طَيِِّبَةً) di atas merupakan isim, terlihat dari adanya tanwin pada akhirannya.
3. Terdapat ال pada awal kata
Contoh :
Kata yang bergaris bawah (keseluruhan kata) di atas merupakan isim, karena bergandengan dengan ال.
Perlu diketahui, jika suatu isim bergandengan dengan ال, maka isim tersebut tidak boleh di tanwin, begitu pula sebaliknya, sehingga isim tidak boleh kemasukan tanda ال dan tanwin pada satu kata, namun isim harus mempunyai salah satu dari kedua tanda di atas, baik itu ال saja atau tanwin saja.
4. Terletak setelah huruf jer
Diantara huruf-huruf jer adalah :
من (min) Dari
إلى (ila) Ke
عن ('an) Dari
على ('ala) Di atas
في (fi) Di dalam
رب (rubba) Betapa banyak, acapkali
ب (bi) Dengan
ك (ka) Seperti
ل (li) Milik, Kepunyaan
Contoh :
فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ
Dari contoh di atas, kata بَيْتٍ dan بُيُوْتِ , termasuk isim karena terletak setelah huruf jer.
5. Idhofah (penyandaran) : Jika terdapat dua kata yang bergandengan, dengan kata yang kedua mempunyai akhiran kasroh, maka kedua kata tersebut kemungkinan besar adalah isim.
Contoh :
إِنِّيِ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ
كِتَابُ مُحَمَّدٍ
دِيْنُ الإِسْلاَمِ
Kata yang digarisbawah di atas adalah isim, karena idhofah, dan terlihat pada kata kedua mempunyai akhiran kasroh.
Dari kelima ciri-ciri di atas, diharapkan para pembaca dapat mengetahui suatu isim di dalam al-qur’an atau hadist, karena ketiga jenis kata ini, yakni isim, fi’il dan huruf merupakan hal dasar yang harus dikuasai bagi pembaca, karena kesulitan di dalam membedakan ketiga jenis ini, maka mempelajari bahasa arab menjadi suatu hal yang sangat-sangat sulit.
Soal :
Tentukan isim-isim dari ayat berikut beserta tanda-tandanya!!
١. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَاءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِن لاَيَعْلَمُونَ
٢. أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَـابَ
٣. وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
٤. وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
٥. فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Referensi tambahan bisa dilihat pada site
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-4-beda-isim-fiil.htm
Bahasa Arab 1 : Pengenalan Ilmu Nahwu dan Shorof
Di dalam bahasa arab, ada istilah yang disebut dengan nahwu dan shorof.
Yang dimaksud dengan ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaedah-kaedah mengenai perubahan keadaan suatu kata, dimana biasanya perubahan ini bisa berupa harokat akhir suatu kata atau bentuk akhir dari suatu kata.
Contoh Perubahan harokat akhir suatu kata :
جَاءَ رَجُلٌ Seorang laki-laki datang
رَأَيْتُ رَجُلاً Aku melihat seorang laki-laki
مَرَرْتُ بِرَجُلٍ Aku bertemu dengan seorang laki-laki
Dari contoh di atas, terlihat perubahan harokat akhir huruf ر dimana perubahan ini tergantung dari susunan atau keadaan kata pada kalimat.
Contoh perubahan bentuk akhir suatu kata:
جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ Para kaum muslimin datang
رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ Aku melihat para kaum muslimin
مَرَرْتُ بِالْكَافِرَيْنِ Aku berpapasan dengan 2 orang kafir
Dari contoh di atas, terjadi perubahan bentuk الْمُسْلِمُوْنَ menjadi الْمُسْلِمِيْنَ , yang disebabkan susunan atau letak dari kata tersebut di dalam kalimat. Sehingga ilmu yang mempelajari perubahan harokat akhir suatu kata atau bentuk akhir kata inilah yang disebut dengan ilmu nahwu.
Adapun yang dimaksud dengan ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari kaedah-kaedah perubahan kata, dimana dengan berubahnya kata menjadikan perubahan pada artinya.
Contoh :
نَصَرَ Telah menolong (kata kerja)
يَنْصُرُ Sedang menolong (kata kerja)
نَاصِرٌ Orang yang menolong (Subjek)
مَنْصُوْرٌ Orang yang ditolong (Objek)
Dari contoh di atas, terlihat perbedaan dari ilmu nahwu dan ilmu shorof, jika kita ringkas maka ilmu nahwu adalah ilmu mengenai suatu kata ketika telah masuk kalimat bisa berupa keadaan kata sebagai subjek, objek dll, adapun ilmu shorof adalah ilmu mengenai suatu kata sebelum masuk kalimat yang meliputi perubahan bentuk katanya.
Dalam group ini, kita akan mencoba menerangkan tentang kedua ilmu tersebut secara berkesinambungan dan juga dengan pembahasan yang mudah dipahami. Semoga dengan adanya group ini, kecintaan kita kepada islam terkhusus kepada al-qur’an menjadi lebih bertambah serta menjadi motivasi untuk lebih memperdalam agama islam.
Referensi tambahan bisa melihat pada situs
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-1-nahwu-shorof.html